Ada 200 PASAL, tapi ini saja dulu:
”SUMBER WARAS TIDAK”
PASAL I.
AKU DAN SEMUT DARI LOUSIA JOHANNA THEODORA VAN DORT
1. Hallo kopi Aceh, dibuat dari apakah Bandung di rumahku hari ini? Dari anak-anakku yang pergi sekolah. Juga dari istriku yang sudah di kantornya. Juga dari Lousia Johanna Theodora Van Dort, menyanyi di Central Processing Unit Juga dari aku yang berterimakasih kepada hanphone, karenanya orang yang ngomong sendiri, sekarang, sudah tidak lagi dianggap gila. Juga dari si Odah, pembantuku, yang menjadi Sarimin oleh kesalahannya sendiri, mau disuruh pergi ke pasar.
2. O, mereka yang tidak di rumah, adalah mereka yang tidak tahu, tadi di dapur, aku masak sendiri, yaitu dengan caraku yang sederhana: Tuangkan kecap pada satu mangkuk kecil. Bubuhi dengan irisan cabe dan bawang merah. Terus tuangkan minyak sayur ke atas wajan. Setelah panas, masukkan segera dua butir telur bebek. Biarkan, sampai tercium bau hangus hingga ke depan rumahku, di mana aku menemui tamu dulu, dan lupa bahwa aku sedang memasak. Ketika aku harus mengulang, semuanya sudah berbeda, tidak lagi sederhana.
3 Tidak semua yang buruk harus membuat marah Kuhibur diriku dalam simfoni lamunan dan bilang: "Pada dasarnya, semua orang di dunia, siapa pun dia, pastilah bisa memasak, selama bertujuan untuk membuat masakan hangus". Tetapi siapa itu yang bicara kepadaku melalui telepon genggamnya, ketika aku sedang di perjalanan pulang di hari yang lalu: ”Ayah, makan di luar ya, di rumah enggak masak. Ayolah! Ayah pasti tahu, ini rumah tangga, bukan rumah makan”. Kau kira siapa orang itu? Dia adalah istriku.
PASAL II. TOILET DAN API DARI BANDUNG
1 Hallo Bandung! Apakah ada selain dirimu, kota yang namanya terdiri dari susunan huruf: B, A, N, D, U, N dan G? Tidak usah dijawab, aku sudah tahu, cuma kamu di dunia. Terimakasih, sudah baik kepadaku. Memberi udaramu yang segar. Menunjukkan gunung-gunungmu yang bagus. Aku suka anginmu, aku suka hujanmu. Di malam hari, setiap kali aku pergi, kau suruh aku memakai baju yang tebal, dengan cara kau dinginkan dirimu, tentu saja, karena kamu tidak bisa bicara langsung kepadaku. Kapan Mesir akan menjual Piramidnya yang kesepian? Kapan Perancis akan menjual Eiffelnya yang eksotis? Beritahu aku, akan kubeli untukmu.
2. Sekarang harimu sudah siang. Kabutmu sudah hilang. Dan akunya sudah di sini, di kamar kerja yang diberantaki oleh buku. Hai, apa kamu sama denganku yang merasa heran pada istriku? Kenapa sih dia itu, selalu aku yang ditegurnya. Katanya aku tidak bisa membuat rapi kamar, padahal sudah jelas baginya: kamar kerjaku diberantaki oleh buku, bukan oleh aku. Istri yang aneh, dia lebih sayang pada buku, daripada kepadaku.
.................................... ....................................
PASAL III. KUNANG-KUNANG, SEMUT, RAKSASA DAN IKAN DI DALAM AQUARIUM
1 Inilah harinya, kuisi dengan cara berjalan bolak-balik di samping aquarium. Harapanku, semua ikan yang ada di dalamnya akan kaget melihatku. Disangkanya aku bisa bernafas di dalam air dan hebat bisa bergerak tanpa berenang. Tentu saja, karena mereka adalah ikan-ikan yang bodoh. Tidak tahu bahwa aku ada di balik kaca, sehingga semua mengira: aku berada di dalam air, sama seperti mereka juga.
2 Dan kuisi juga dengan pergi ke sana, menemui semut di taman depan rumahku. Enaknya duduk bersama semut, aku langsung merasa seperti raksasa yang sedang duduk di atas batu, yaitu raksasa yang baru bangun dari tidur dan belum mandi. Juga cemas, karena takut digigit semut. Tetapi itulah bagiku keindahan, yang tadi aku rayakan dengan mereka, yaitu binatang kecil dengan siapa di bumi ini aku tumbuh berkembang. Yaitu binatang kecil yang disebut sebagai semut, yang baru saja aku tahu ternyata mereka tidak suka risolis yang tadi kuberikan.
3 Dan kunang-kunang, mereka juga adalah binatang kecil. Pada waktu aku masih kecil, kunang-kunang itu juga masih kecil. Sekarang aku sudah besar, tetapi kunang-kunang itu tetap saja masih kecil. Seandainya saja ada kunang-kunang sebesar aku, wow akan teranglah dunia.
4. Itulah kunang-kunang. Salah satu binatang, selain ubur-ubur, selain cumi-cumi dan undur-undur, yang bisa mempersingkat dirinya dengan hanya menggunakan angka dua. Pada awalnya aku sendiri tidak percaya, kecuali setelah aku membaca tulisan: ”Kunang2”, sejak itu aku langsung setuju.
5. Dan kuman, kalau benar kamu kuman, mafkan aku, tadi sudah kuluruhkan dirimu di kamar mandi. Hanyut ke sana dirimu, bersama air comberan. Mengalir sampai jauh, sampai Samudera Hindia. Jika nanti kau datang lagi, mungkin kau datang bersama rombongan tsunami, naik perahu besar dan mendarat di atap rumah. Wow.
6 Sedangkan di atas meja itu, adalah surat. Itulah suratnya yang kutulis tadi malam, karena anakku datang ketika aku sedang membakar obat nyamuk dan bilang: ”Ayah, jangan membunuh binatang, nanti Ayah dosa”. Surat itu aku simpan di meja, berharap nanti nyamuk akan membacanya: ”Kepada Yth. Nyamuk di tempat, dengan surat ini Ayah mau ngasih tahu, yang Ayah bakar itu meskipun namanya obat nyamuk, tapi bukan untuk menyembuhkan penyakitmu. Jangan salah, ya, itu racun, mengkonsumsinya akan membuat kamu meninggal dunia”. Sekarang Ayah sudah ngasih tahu, kalau masih ada nyamuk yang mati, jangan nyalahin Ayah lagi.
7. Tapi dari semua binatang, Ikan paus adalah binatang yang paling bodoh. Merasa di darat susah bernafas lalu dia bunuh diri dengan loncat ke laut. Dipikirnya akan mati nyatanya tidak. Itu benar-benar ikan paus yang bodoh.
PASAL IV. SABUN, GITAR DAN MIDAN DARI MANA
1 Dan dibuat dari apa Bandung di rumahku tadi malam? Dari Enya, yang tekun menyanyi. Dari buku ”Words” Sartre yang penuh coretanku. Dari suara cecak bagai puisi fiskal yang sedikit lebih baik dari puisi Hukla nya Leon. Dan dari aku yang mandi membaluri badan pake shampoo karena akunya buru-buru, sehingga kukira itu sabun.
2 Juga dibuat dari perut yang meminta goreng telur. Dan dari gelas yang hamil mengandung kopi. Oh ya, benar, juga dari sunyi pada detik yang terakhir, karena lalu datang Midan yang bingung karena ada gadis yang tidak bisa keluar dari kepalanya Dia membawa gitar dan menyanyi. Suaranya tidak bagus, tapi tidak masalah, bahwa tuhan masih memberi dia nafas, itu yang paling penting, sehingga aku tidak merasa takut menerima kedatangannya.
BERSAMBUNG | Pertamax! *menunggu lanjutannya dengan tidak sabar* |
 | Pertamax! *menunggu lanjutannya dengan tidak sabar* |
 | Indah seperti selalu pidi |
 | podja wrote on Apr 1, '11 memang surayah ini gak ada duanya.. merdeka!!.. ditunggu bukunya yah.. |
 | gue berasa baca mazmur kalo gak gurindam dua belas o.O" |
 | keren kang,,, mana mana mana,,, dbwt dr apa sambunganya,,, :D |
 | wah surayah mau bikin undang-undang sadar 95' |
| dezig wrote on Apr 1, '11 |
 | Kang Pidi pecinta binatang yang "terpaksa". mangaku tidak mencintai tapi tersirat memang mencintai. Syukurlah nyamuk tidak bisa membaca, tapi siapa yang tau? |
 | bang haji surayah, merdeka untuk nyamuk yang bisa membaca! |
 | kapan bukunya rilis?? *gasabar... |
 | yah ari LOUSIA JOHANNA THEODORA VAN DORT teh siapanya WIETEKE VAN DORT |
 | yah di tunggu pasal berikutnya, terlihat tambah kereeen,hehe |
 | wah sungguh memukauu... walau pun saya tidak membaca tp mata saya tertuju pada teks tulisan pasal2 tersebut sehingga membuat hatiqu tersenyum. :) |
 | Saya senang sekali membaca ini. Membuat sy bergelora bersemangat u mengasihi dan bermain2 dgn enya, kunang2, sampo, ikan, buku, kata2, rumah, bandung dan nyamuk juga keluarga, teman2 dan handai taulan, tmsk the panasdalam dan fpikhb. Sampai jumpa nanti sore. |
 | Bang, ini dibuat dalam bentuk buku juga ya kayak Al-Asbun ? |
 | Wuiihhh.. Ditunggu pasal selanjutnya surayah.. |
| |