Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Pidi Baiq //// Babi Oil Oh Nguik Crot Crot Institute

Blog EntryApr 1, '11 6:12 AM
for everyone
Ada 200 PASAL, tapi ini saja dulu:

”SUMBER WARAS TIDAK”



PASAL I.
AKU DAN SEMUT
DARI LOUSIA JOHANNA THEODORA VAN DORT

1.
Hallo kopi Aceh, dibuat dari apakah Bandung di rumahku hari ini?
Dari anak-anakku yang pergi sekolah.
Juga dari istriku yang sudah di kantornya.
Juga dari Lousia Johanna Theodora Van Dort,
menyanyi di Central Processing Unit
Juga dari aku yang berterimakasih kepada hanphone,
karenanya orang yang ngomong sendiri,
sekarang, sudah tidak lagi dianggap gila.
Juga dari si Odah, pembantuku,
yang menjadi Sarimin oleh kesalahannya sendiri,
mau disuruh pergi ke pasar.

2.
O, mereka yang tidak di rumah,
adalah mereka yang tidak tahu,
tadi di dapur, aku masak sendiri,
yaitu dengan caraku yang sederhana:
Tuangkan kecap pada satu mangkuk kecil.
Bubuhi dengan irisan cabe dan bawang merah.
Terus tuangkan minyak sayur ke atas wajan.
Setelah panas, masukkan segera dua butir telur bebek.
Biarkan, sampai tercium bau hangus hingga ke depan rumahku,
di mana aku menemui tamu dulu,
dan lupa bahwa aku sedang memasak.
Ketika aku harus mengulang,
semuanya sudah berbeda,
tidak lagi sederhana.

3
Tidak semua yang buruk harus membuat marah
Kuhibur diriku dalam simfoni lamunan dan bilang:
"Pada dasarnya, semua orang di dunia,
siapa pun dia, pastilah bisa memasak,
selama bertujuan untuk membuat masakan hangus".
Tetapi siapa itu yang bicara kepadaku melalui telepon genggamnya,
ketika aku sedang di perjalanan pulang di hari yang lalu:
”Ayah, makan di luar ya, di rumah enggak masak.
Ayolah! Ayah pasti tahu, ini rumah tangga, bukan rumah makan”.
Kau kira siapa orang itu? Dia adalah istriku.


PASAL II.
TOILET DAN API DARI BANDUNG

1
Hallo Bandung! Apakah ada selain dirimu,
kota yang namanya terdiri dari susunan huruf: B, A, N, D, U, N dan G?
Tidak usah dijawab, aku sudah tahu, cuma kamu di dunia.
Terimakasih, sudah baik kepadaku.
Memberi udaramu yang segar.
Menunjukkan gunung-gunungmu yang bagus.
Aku suka anginmu, aku suka hujanmu.
Di malam hari, setiap kali aku pergi,
kau suruh aku memakai baju yang tebal,
dengan cara kau dinginkan dirimu,
tentu saja, karena kamu tidak bisa bicara langsung kepadaku.
Kapan Mesir akan menjual Piramidnya yang kesepian?
Kapan Perancis akan menjual Eiffelnya yang eksotis?
Beritahu aku, akan kubeli untukmu.

2.
Sekarang harimu sudah siang.
Kabutmu sudah hilang.
Dan akunya sudah di sini,
di kamar kerja yang diberantaki oleh buku.
Hai, apa kamu sama denganku yang merasa heran pada istriku?
Kenapa sih dia itu, selalu aku yang ditegurnya.
Katanya aku tidak bisa membuat rapi kamar,
padahal sudah jelas baginya:
kamar kerjaku diberantaki oleh buku, bukan oleh aku.
Istri yang aneh,
dia lebih sayang pada buku,
daripada kepadaku.

....................................
....................................


PASAL III.
KUNANG-KUNANG, SEMUT, RAKSASA
DAN IKAN DI DALAM AQUARIUM

1
Inilah harinya,
kuisi dengan cara berjalan bolak-balik di samping aquarium.
Harapanku, semua ikan yang ada di dalamnya akan kaget melihatku. Disangkanya aku bisa bernafas di dalam air
dan hebat bisa bergerak tanpa berenang.
Tentu saja, karena mereka adalah ikan-ikan yang bodoh.
Tidak tahu bahwa aku ada di balik kaca,
sehingga semua mengira: aku berada di dalam air,
sama seperti mereka juga.

2
Dan kuisi juga dengan pergi ke sana,
menemui semut di taman depan rumahku.
Enaknya duduk bersama semut,
aku langsung merasa seperti raksasa
yang sedang duduk di atas batu,
yaitu raksasa yang baru bangun dari tidur dan belum mandi.
Juga cemas, karena takut digigit semut.
Tetapi itulah bagiku keindahan,
yang tadi aku rayakan dengan mereka,
yaitu binatang kecil dengan siapa di bumi ini aku tumbuh berkembang.
Yaitu binatang kecil yang disebut sebagai semut,
yang baru saja aku tahu ternyata mereka tidak suka risolis
yang tadi kuberikan.

3
Dan kunang-kunang,
mereka juga adalah binatang kecil.
Pada waktu aku masih kecil,
kunang-kunang itu juga masih kecil.
Sekarang aku sudah besar,
tetapi kunang-kunang itu tetap saja masih kecil.
Seandainya saja ada kunang-kunang sebesar aku,
wow akan teranglah dunia.

4.
Itulah kunang-kunang.
Salah satu binatang, selain ubur-ubur,
selain cumi-cumi dan undur-undur,
yang bisa mempersingkat dirinya
dengan hanya menggunakan angka dua.
Pada awalnya aku sendiri tidak percaya,
kecuali setelah aku membaca tulisan: ”Kunang2”,
sejak itu aku langsung setuju.  

5.
Dan kuman, kalau benar kamu kuman,
mafkan aku, tadi sudah kuluruhkan dirimu di kamar mandi.
Hanyut ke sana dirimu, bersama air comberan.
Mengalir sampai jauh, sampai Samudera Hindia.
Jika nanti kau datang lagi,
mungkin kau datang bersama rombongan tsunami,
naik perahu besar dan mendarat di atap rumah.
Wow.

6
Sedangkan di atas meja itu, adalah surat.
Itulah suratnya yang kutulis tadi malam,
karena anakku datang ketika aku sedang membakar obat nyamuk dan  bilang: ”Ayah, jangan membunuh binatang, nanti Ayah dosa”.
Surat itu aku simpan di meja,
berharap nanti nyamuk akan membacanya:
”Kepada Yth. Nyamuk di tempat,
dengan surat ini Ayah mau ngasih tahu,
yang Ayah bakar itu meskipun namanya obat nyamuk,
tapi bukan untuk menyembuhkan penyakitmu.
Jangan salah, ya, itu racun,
mengkonsumsinya akan membuat kamu meninggal dunia”.
Sekarang Ayah sudah ngasih tahu,
kalau masih ada nyamuk yang mati,
jangan nyalahin Ayah lagi.

7.
Tapi dari semua binatang,
Ikan paus adalah binatang yang paling bodoh.
Merasa di darat susah bernafas
lalu dia bunuh diri dengan loncat ke laut.
Dipikirnya akan mati nyatanya tidak.
Itu benar-benar ikan paus yang bodoh.


PASAL IV.
SABUN, GITAR DAN MIDAN DARI MANA

1
Dan dibuat dari apa Bandung di rumahku tadi malam?
Dari Enya, yang tekun menyanyi.
Dari buku ”Words” Sartre yang penuh coretanku.
Dari suara cecak bagai puisi fiskal
yang sedikit lebih baik dari puisi Hukla nya Leon.
Dan dari aku yang mandi membaluri badan pake shampoo
karena akunya buru-buru, sehingga kukira itu sabun.

2
Juga dibuat dari perut yang meminta goreng telur.
Dan dari gelas yang hamil mengandung kopi.
Oh ya, benar, juga dari sunyi pada detik yang terakhir,
karena lalu datang Midan yang bingung
karena ada gadis yang tidak bisa keluar dari kepalanya
Dia membawa gitar dan menyanyi.
Suaranya tidak bagus, tapi tidak masalah,
bahwa tuhan masih memberi dia nafas,
itu yang paling penting,
sehingga aku tidak merasa takut
menerima kedatangannya.

 



BERSAMBUNG


Blog EntryMar 29, '11 10:37 AM
for everyone
Cerita yang sudah saya revisi
untuk Drunken Monster yg direpublish

01. AIR LEMBANG PANAS


Pada suatu hari di malam minggu, saya ajak karyawan saya untuk mandi air panas. Mandi air panasnya di sana, di daerah Lembang, Bandung. Karyawan saya yang bisa ikut hanya sepuluh orang. Semuanya laki-laki. Laki-laki semuanya, dan manusia.

Malam minggu itu, Bandung tidak hujan. Baguslah kalau memang begitu. Tapi meskipun hujan tetap saja akan bagus, selama terus disebut bagus. Coba kamu lihat, kami semua pada masuk, masuk ke dalam mobil, untuk pergi ke sana. Kemana tadi? Ke tempat pemandian air panas, kan? Di Lembang. Ngeeeng, mobilnya Kijang, sopirnya manusia, yaitu si Marwan, yang berbintang singa.

Di daerah setelah IKIP Bandung atau UPI Bandung atau kalau dipanjangkan jadi Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, mobil menepi. Karena? Karena mau bertanya kepada seorang manusia yang sedang berdiri di pinggir jalan. Manusia itu berbentuk laki-laki. Dia sedang berancang-ancang karena  mau menyebrang jalan:
”Punten, Pak!”, kata saya dengan harapan dia segera menyangka saya polisi oleh sebab intonasi suara yang didengarnya.
”Ya?”, dia menjawab. (Bahasa Inggrisnya: Yes?)
”Kalau mau ke Lembang, lurus terus ya?”. Saya bertanya.
”Iya. Lurus aja, Pak”, orang itu menjawab dengan sedikit ada gugupnya. Mungkin diakibatkan oleh karena dia mendengar ada banyak suara di dalam mobil. Itu terdengar seperti suara orang sedang disiksa.
”Mau ikut, Pak?”
”Makasih. Enggak, Pak!”
”Okey, kalau begitu. Makasih, Om Lukas. Mangga!”
”Mangga! Mangga!”
Kenapa saya panggil dia Lukas? Karena saya juga gak tahu. Mungkin karena saya tiba-tiba ingat Lukas, kawan saya di Belanda. Mobil maju. Dan suara jeritan sudah berubah jadi ketawa. Tadi itu mereka menjerit karena memang disuruh oleh saya.  

***
Ow, akhirnya sampai juga di Lembang. Mobil berhenti beberapa meter agak jauh dari gerbang. Itu gerbang, kalau kamu mau tahu, dibangun asal saja, asal cukup bisa dianggap gerbang, disebabkan oleh karena meskipun ada budget tapi tak ada taste yang bagus dari si orang yang sudah menyuruh membuatnya.

Kepada orang yang ada di dalam mobil, saya bilang, jangan ada yang turun dulu, biar saya saja.
”Siap grak!”.
Saya tersenyum dan turun, untuk pergi ke sana, menemui penjaga tiket yang tak tahu sedang apa duduk di situ. Subhanallah, saudara-saudara, Subhanallah, coba kau lihat, loket tiket itu, ada di bagian sebelah kanan gerbang.

”Selamat malam, Pak!”, saya menyapanya dengan membungkukkan badan, biar bisa bicara dengan dia melalui lobang kecil yang ada di loket itu.
”Malam”, katanya. Itu kata si bapak penjaga tiket, yang saya tebak umurnya sudah di atas 40 tahun, tapi kalau ditanya, kayaknya dia akan ngaku masih umur 25. Dia pake jaket yang ada penutup kepalanya.
”Malam”, katanya sambil membungkukkan dirinya juga.
”Maaf, Pak”
”Iya?”
”Saya dari rombongan Rumah Sakit Jiwa!”, kata saya langsung saja pada pokoknya.
”Rumah Sakit apa?”.
”Rumah sakit Jiwa, Pak!”,
”Rumah Sakit Jiwa?”, dia bertanya ingin lebih yakin dengan apa yang saya katakan.
”Iya. Dari Rumah Sakit Jiwa”, jawab saya dengan volume suara yang sengaja saya bikin lebih keras, karena saya kuatir mungkin saja malam itu dia adalah karyawan yang harus pura-pura tuli.
”Oh? Ada apa ya?”, tanya dia.
”Ini, saya bawa pasien, Pak. Mau mandi di sini. Mau terapi. Bisa ya?”.
”Oh?”. Saya melihat sepertinya dia bingung. Memandang ke arah mobil, juga memandang ke arah jauh, ke arah pos satpam yang letaknya ada di sana, di arah seberang jalan masuk menuju tempat pemandian.

Saksikanlah, si Tukang Tiket itu mulai turun dari kursinya. “Bentar ya, Pak!”, katanya, kemudian dia keluar dari sarangnya dan memanggil satpam yang saya lihat sedang duduk nonton teve di poskonya: ”Pak Ujang!!!”, dia teriak. Pak Ujang yang dipanggilnya itu adalah manusia yang sudah agak tua. Malam itu dia tampil dengan gaya andalannya: Look Army, yang sepadan dengan badannya yang gemuk dan mukanya yang baby face dan poskonya yang remang-remang dan pot bunganya yang rimbun dan lain-lain sebagainya, kamu harus datang sendiri deh kalau ingin detail.

”Iya?”, tanya pak Satpam itu setelah kemudian bergabung bersama kami sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong jaketnya. Kayaknya dia ingin tampil wibawa, padahal saya tahu itu karena dia kedinginan.
”Pak Handi masih ada ya?”, tanya si Tukang Tiket kepadanya.
”Masih kayaknya”, jawab dia sambil memandang ke arah saya dan lalu bertanya: ”Ada apa ya, Pak?”.
Yang menjawab bukan saya, melainkan si Tukang Tiket itu:
“Ini, Pak Ujang. Si Bapak ini...bawa rombongan Rumah Sakit Jiwa!”
“Rumah sakit jiiiwa?”, Pak Ujang langsung merasa kaget, lalu memandang ke arah saya dan kemudian memandang ke arah mobil juga.
“Iya. Katanya pada mau mandi di sini......”, kata si Tukang Tiket.
“Oooh? Gitu?”
”Iya, Pak!”, jawab saya.
”Tanya Pak Handi dulu atuh, Bun?”, saran pak Satpam dan atuh itu artinya dong. Pak Ujang harusnya bisa menahan diri untuk tidak sedikit panik, nyatanya lebih dari itu dia juga bingung.
”Iya. Telepon sama Pak Ujang aja lah!”, kata si Tukang Tiket.
”Pak, bentar ya?”, kata Pak Ujang kepada saya, ”Saya telepon atasan saya dulu”.
”Siap grak!”, jawab saya.
”Bukan apa-apa, minta izin dulu. Biar sama-sama enak lah!”.
”Siap grak! Boleh. Silakan, Pak!”, kata saya.

Pak Ujang pergi ke poskonya dan sedikit bergegas, untuk apa lagi kalau bukan untuk nelepon atasannya itu, yang tadi sudah ia sebut namanya: Handi.
”Rumah Sakit Jiwa mana, Pak?” Si Tukang Tiket bertanya sambil memandang kosong ke arah mobil. Dia sudah sedang berdiri di samping saya.
”Dari Ujung Kulon, Pak!”
”Oh, Ujung Kulon. Jauh ya?”
”Iya nih. Sengaja datang jauh-jauh. Soalnya mandi air panas itu bagus. Katanya sih bisa bikin rileks syaraf”. Ini sudah pasti saya ngarang, aslinya saya tak tahu apa benar atau tidak air panas bisa berguna untuk bikin rileks orang gila, karena saya kan bukan orang gila atau ahli jiwa.
”Iya, sih”
”Oh, itu ya Pak Handi?”, tanya saya tak lama kemudian, sambil menunjuk ke arah orang yang keluar dari sebuah bangunan kantor yang letaknya berada jauh di sana, kira-kira 30 meter dari tempat kami berdiri, atau kira-kira 30 meter lebih 23 senti.
”Iya, itu!”.
”Biar saya aja yang ke sana”, kata saya.
“Silakan, Pak”
“Pak Ujang!”, saya teriak manggil Pak Ujang yang lagi sibuk mengemas sesuatu di poskonya, seolah-olah hal itu penting baginya untuk ia lakukan.
“Biar saya yang ngomong ya, ke Pak Handi!”, kata saya lagi kepadanya setelah sedikit menghampiri dia di poskonya.
“Iya, Pak! Silakan!”, katanya menggerakkan tangan.

Saya berjalan ke sana, menemui Pak Handi. Saya pikir itu harus, supaya Pak Ujang dan si Tukang Tiket itu, tidak mendapat kesempatan bisa ikut campur urusan saya dengan Pak Handi.
”Selamat malam, Pak!”, saya menyapanya dengan logat suara Batak dan badan dibikin bungkuk pada waktu bersalaman.
”Malam! Dari Rumah Sakit Jiwa ya?”, Pak Handi bertanya.
”Eh, bukan, Pak. Saya dari Gemah Bangkit Jiwa!”
”Bukannya dari Rumah Sakit Jiwa?”
”Bukan, Pak. Kami dari Yayasan. Yayasan Gemah Bangkit Jiwa!”
”Tadi? Katanya dari Rumah Sakit Jiwa?”, dia sedikit memandang ke arah gerbang. Ada kerutan di dahinya.
”Bukan, Pak. Dari Gemah Bangkit Jiwa”.
”Ooo! Yayasan ya?”.
”Iya! Gini, Pak. Kami ini kan rombongan dari Medan”.
”Iya?”
”Nah, tadi saya nanya sama siapa itu, bapak-bapak di situ, orang Medan boleh gak mandi di sini? Mereka malah nyuruh saya nanya Bapak. Begitu, Pak!”
”Oh begitu ya?”
”Iya, Pak”
”Kirain apa. Ya boleh. Ini pemandian untuk umum lah. Siapa saja boleh. Suku apa saja boleh. Silakan aja. Orang asing juga banyak kok!”
”Kirain ini khusus untuk orang Sunda saja, Pak!”
”Aaah, enggak! Bukan orang Sunda juga boleh!”
”Jadi, kami boleh ya, Pak?”
”Boleh, boleh. Silakan!”
”Waah, makasih, Pak”.
”Sama-sama”
”Ya udah kalau begitu, saya ke sana lagi. Maaf nih, Pak, ngerepotin!”
”Gak apa-apa!”
”Terimakasih banyak, Pak!”
”Sama-sama!”
”Mari, Pak! Saya ke sana lagi”
”Mari, mari!!”

Alhamdulilah, Pak Handi balik lagi ke kantornya. Kalau tidak, kalau dia menemui Pak Satpam, cerita pasti akan berbeda. Dan saya kembali ke gerbang untuk bertemu lagi dengan Pak Ujang dan si Pak Bun.
”Boleh katanya, Pak!”, kata saya kepada Pak Ujang yang sudah berdiri dengan si Pak Bun itu.
”Boleh?”, tanya si Pak Bun bagai tak ingin percaya.
”Iya”.
”Berapa orang semuanya, Pak?”, tanya Pak Ujang
”Sepuluh. Sebagian ada yang diiket sih. Takut ngamuk!”
”Oh...”
”Sebenarnya lagi nunggu dua bis lagi”, kata saya sambil mau bergerak ke arah mobil, ”Tapi kok belum datang ya?”, tanya saya seolah-olah kepada diri saya sendiri.
”Masih ada!?”, tanya Pak Ujang
”Iya. Semuanya 150 orang”
“Tadi udah bilang ke Pak Handi ada 150?”, Pak Ujang Satpam bertanya, menyebabkan saya menahan diri untuk tidak langsung bergerak ke arah mobil.
”Iya, udah. Kata dia sih gak apa-apa. Gak masalah katanya”
”Ooh!!”
”Kumaha, Pak Ujang?”, tanya Pak Bun. (artinya: ”Gimana, Pak Ujang?”)
”Teuing, ah!”, jawab Pak Ujang (artinya sama dengan: ”Tauk ah, gelap!”)
”Pak Ujang, nanti minta tolong kalau ada yang ngamuk ya!”, kata saya kepada Pak Ujang sambil saya mainkan HP.
”Suka ngamuk ya?”, tanya Pak Ujang sambil membuka topinya dan kemudian saya mendengar dia mengeluh: ”Duh!”
”Enggak semua”, jawab saya. ”Bentar ya, Pak, saya mau nelpon rombongan lainnya!”, kata saya pada mereka.

Setelah HP dibikin silent, segera saya bergerak untuk jadi sedikit agak jauh dari mereka, lalu pura-pura nelepon dengan suara sedikit keras, supaya mereka bisa mendengar ihwal apa saja yang saya katakan dengan orang yang sebetulnya tidak ada itu:
”Sudah sampai mana?”-......-”Cileuwi?”-......-”Oh Ciluni”-......-”Hah, apanya!?”-......-”Busnya?”-......-”Digulingkan gimana sih!?”-......-”Sama mereka digulingkan gitu!?”-......-”Sekarang gimana?”-......-”Oh, syukurlah. Gini aja, Pak Zaenal ada!?”-......-”Ya udah minta Pak Zaenal aja yang ngurus”-......-’Iya!”-......-”Iyaaa!”-......-”Bisa, bisa! Lapor Polisi aja!”-......-”Oh ya udah”-......-”Ya udah!”-......-”Kalau udah beres, langsung aja ya?”-......-”Iya, kami sudah sampai nih!”-......-”Iya. Udah ya. Hati-hati!”. Klik. Selesai. Habis itu, saya kembali menemui  mereka.
”Paling ribed kalau bawa mereka itu”, keluh saya seperti pada diri saya sendiri.
”Enggak bawa satpam?”, tanya Pak Ujang.
”Enggak, Pak. Saya lebih percaya lindungan Allah. Eh, Pak, kayaknya rombongan lain mah nyusul aja deh. Kami mau masuk duluan!”. Tak ada jawaban. Pak Ujang sejurus menggerakkan tangannya dengan sedikit agak ragu untuk mempersilakan saya membeli tiket. Dari bahasa tubuhnya, saya merasa dia sepertinya tidak suka dengan apa yang sedang dialaminya, malam itu.

Saya membeli tiket untuk sepuluh orang, sambil sedikit bicara masalah suka duka menjadi penggembala orang yang menderita sakit jiwa. Bayar tunai dan mendapat kembalian. Habis itu saya pergi ke sana untuk kembali masuk mobil. Orang di dalam mobil bertanya kenapa saya lama. Oh, tentu saja lama, Sayang, kan saya harus banyak tanya dulu, untuk memastikan airnya panas atau tidak, supaya tidak kecewa.

Segera mobil maju. Maju untuk masuk ke sana, ke lokasi tempat pemandian air panas yang jaraknya kira-kira empat puluh meteran dari pintu gerbang, disaksikan oleh Pak Ujang dan juga Pak Bun dengan pandangan mereka yang pasti akan susah kalau saya jelaskan dengan menggunakan bahasa Portugis.
Aduh Lembang, udaramu sangat dingin. Coba lihat, kami sedang mandi air panasmu, bagai bidadari. Bagai bidadari yang sedang direbus. Berenang sana kemari seperti ikan. Ya, bisa juga sih seperti bebek.

Satu jam kemudian, atau mungkin dua jam kemudian, setelah kami merasa puas, kami segera berkemas untuk kembali ke Bandung. Untuk meninggalkan tempat pemandian air panas itu, meninggalkan Pak Ujang itu, meninggalkan Pak Bun itu, yang entahlah mereka percaya atau tidak bahwa kami ini adalah rombongan dari Rumah Sakit Jiwa. Rumah Sakit Jiwa Negeri Ujung Kulon!
Mari, Pak Ujang. Mari, Pak Bun, kami pulang ya. Kalau kalian percaya bahwa rombongan bus Rumah Sakit Jiwa itu benar ada, maka tunggulah, insya Allah mereka tak akan datang, tak akan pernah. Dan kepada Pak Handi, yang malam itu sudah berhasil menjadi orang baik di mata saya, karena menjadi orang yang tidak mau membuat orang tersinggung dengan hal yang berkaitan masalah SARA, kalau tadi saya katakan bahwa kami ini adalah rombongan dari Rumah Sakit Jiwa, ow, masihkah engkau akan izinkan kami masuk untuk mandi? Masihkah? Wallahualambisawab!

Bandung, 21 Oktober 1997 

   



Blog EntryMar 29, '11 8:44 AM
for everyone
Pendahuluan untuk buku Drunken Monster yang direpublish dan direvisi
insya Allah terbit Mei 2011 Masehi

Inilah Drunken Monster Yang Direvisi
Pendahuluan Oleh Pidi Baiq

Ketika saya bertemu dengan delegasi dari Mizan, saya memesan satu gelas kopi dan satu gelas ice marquisa. Itu terjadi di sebuah cafe yang sepi, di Bandung dan siang. Biasanya saya bertemu dengan mereka di kantor Mizan, tempat di mana saya tidak bisa memesan Sirloin Steak kalau lapar, atau ice lemon tea kalau ingin. Tapi hari itu saya minta bertemu di cafe, supaya pertemuannya bisa dianggap sebagai sebuah pertemuan yang luar biasa, karena betul-betul di luar kebiasaan, apalagi yang nraktir adalah mereka.

Di sana, kami cuma bertiga, dan duduk di bangkunya masing-masing. Secara visual, semuanya nampak senang dan bicara dengan menggunakan bahasa Indonesia, tentu supaya mudah mengatakannya dan gampang dimengerti. Pokok utama yang dibahas adalah tentang rencana Mizan yang mau me-republish buku Drunken Monster. Katanya, buku itu sudah habis, setelah beberapa kali cetak ulang. Saya bilang oke dan kalau boleh, sebelum di-republish, saya ingin me-revisi dulu beberapa bagian di dalamnya. Ternyata boleh, tapi cover bukunya harus dibikin baru.  

Sepulang dari sana, yaitu beberapa minggu kemudian, saya baca lagi buku Drunken Monster itu. Puji Tuhan, pada saat membacanya saya benar-benar tidak bisa melihat matahari, karena malam. Juga tidak bisa melihat bulan karena saya ada di dalam kamar. Dan tidak bisa memakan pizza, karena tak ada.

Saya duduk membacanya di atas bayang-bayang saya sendiri, sambil makan roti yang dicelup ke dalam cokelat, dan apa itu rasanya membayangkan kembali semua kisah yang dulu pernah terjadi, sebagaimana yang sudah ditulis di dalam buku Drunken Monster. Rasanya seperti membangkitkan kembali kisah di masa lalu yang pernah saya nikmati dengan diri saya yang dulu masih muda, masih seksi dan masih merasa begitu sampai sekarang. Saya tersenyum, dan mencoba memaklumi akan semua yang ada di dalam buku Drunken Monster itu, baik isi maupun pada gayanya berungkap, baik illustrasi maupun pada desain cover bukunya.

Saya kira, sebenarnya tidak masalah meskipun tidak saya revisi, kekurangan yang terdapat di dalam buku Drunken Monster itu, tentunya harus bisa dimaklumi karena dibikin pada masa di mana saya masih belum berubah jadi saya yang kini ada. Tapi ketika saya membacanya lagi, keinginan untuk merevisi menjadi tumbuh semakin kuat saja. Seolah-olah ada yang memaksa untuk buanglah kata itu, atau tambahkan dengan kata yang ini. Ubahlah kalimat itu, biar mudah dimengerti. Tambahkan dengan beberapa kalimat lagi, biar membuat tambah bikin capek. Dan ingat, dengan merevisi, maka kesempatan untuk ingin mengubah setiap hal yang ingin diperbaiki akan segera tercapai. Oh menyenangkan, apalagi hal itu mudah dilakukan. Bisa dilakukan dengan cara menguranginya atau memberinya tambahan, sama sekali tak ada perkalian.

Desakan untuk merevisi juga datang dari ketika saya membaca salah satu cerita yang ada di buku itu, tiba-tiba saya baru bisa ingat lagi, tentang adanya hal lain, yaitu hal yang masih bersangkutan dengan cerita itu, yang mungkin akibat terlalu fokus mengingat password, sehingga membuat saya lupa pada saat menuliskannya di waktu itu. Sekarang, alhamdulilah sudah selesai saya tambahkan. Malahan saya tambahkan juga dengan sebuah pemahaman baru, yaitu pemahaman berbeda dengan saat saya dulu memahaminya.

Tentu saja, bukan revisi namanya kalau saya ganti semua. Ada yang pasti saya biarkan bertahan, termasuk meskipun cuma sebuah kalimat sederhana, namun memiliki kekuatan untuk tetap bernapas di dalamnya. Terutama isi cerita, itu adalah pokok. Itu adalah penting yang harus tetap bertahan. Itu adalah fakta dari sebuah sejarah yang tidak mungkin saya rubah.

Alangkah indahnya ketika dunia kreasi saya mendapati kebebasan perjalanannya. Dan juga ketika mendapati bantuan dari ilmu pengetahuan untuk bisa mewujudkannya. Pada saatnya, saya cuma menuntut diri saya untuk bisa tetap tenang dan juga selalu riang, serta minum di kala ingin. Meskipun kadang-kadang saya sering dilanda kantuk kalau mengerjakannya terlalu malam, tapi syukurlah hal itu bisa diatasi dengan cara yang mudah, yaitu tidur. Dan juga dilanda oleh perasaan tegang. Perasaan tegang yang sebenarnya diciptakan oleh saya sendiri, yaitu sama seperti Socrates yang merasa perlu menciptakan ketegangan di dalam pikiran, untuk bisa bangkit dari belenggu-belenggu mitos dan juga dari setengah-kebenaran, demi menuju esok yang tidak lagi terbelenggu oleh analisis kreatif dan penilaian obyektif. Bedanya, saya menciptakan ketegangan dengan cara menonton pertandingan sepakbola antara kesebelasan idola saya, Barcelona, melawan musuh-musuhnya, demi menunda pekerjaan dan menuju esok saya yang bangun kesiangan.

Sekarang saya biarkan dirimu, untuk memberi penilaian sendiri, supaya tidak terlalu banyak mengikuti penilaian dari sudut pandang saya. Coba amati bagaimana akhirnya buku Drunken Monster yang sudah saya revisi ini. Saya sudah mengerjakannya dengan semua cara yang bisa saya lakukan, juga dengan doa dan makanan yang enak, untuk mudah-mudahan bisa dianggap berhasil dan mendapatkan sedikit kemajuan dibanding dengan yang ada sebelumnya.

Saya tidak hanya mau bertemu dengan segala sesuatu yang saya cintai di dunia ini, termasuk dirimu, yaitu yang selama ini telah menyebabkan saya selalu gembira, tetapi saya juga ingin bertemu dengan diri saya sendiri yang bisa bersyukur bahwa; saya masih diberi kesempatan untuk membuat perubahan, demi membuatnya menjadi sedikit lebih baik dari kenyataan sebelumnya. Atas apa yang sudah saya lakukan ini, saya berterimakasih kepada tuhan, manusia dan lain-lain yang ada.

Bandung, 14 Maret 2011 Masehi


Pidi Baiq


Blog EntryMar 29, '11 7:52 AM
for everyone
Kata Pengantar Drunken Monster Edisi Revisi

Oleh Dr. Yasraf Amir Piliang
Staff pengajar Fakutas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung dan
Ketua Forum Studi Kebudayaan (FSK)

 
Tamasya Dalam Semesta Parodi

 

Dalam pengembaraan menelusuri labirin dan lorong gelap di dalam karya Pidi Baiq berjudul Drunken Monster yang ada di tangan pembaca ini, kita dibawa tamasya dalam sebuah panorama penuh keanehan, ketakbiasaan, keganjilan, abnormalitas, kejanggalan, ironi, absurditas, mungkin juga kegilaan. Kita menyaksikan panorma kehidupan harian yang tak-biasa, tak-normal, tak-masuk akal, tak-terbayangkan, tapi mungkin juga tak-terpikirkan. Kita seakan-akan menjadi bagian dari kegilaan itu: kegilaan bahasa, nalar, gagasan, etis.

            Akan tetapi, ini adalah kegilaan yang menjanjikan, absurditas yang mencerahkan, abnormalitas yang mempesona, ironi yang merangsang iluminasi. Betapa tidak, kegilaan, absurditas dan abnormalitas itulah yang melepaskan kita dari kungkungan normalitas, rutinitas dan keseriusan hidup harian yang beku dan melenakan. Semua kegilaan itu seakan-akan membangunkan kita dari tidur lelap ‘normalitas’, sehingga mata kita seakan nanar melihat cahaya yang tak-terbayangkan atau tak-terpikirkan itu.

            Buku ini menyadarkan kita, bahwa keisengan, keusilan dan kekocakan dapat menjadi pintu masuk ke dalam keseriusan. Buku ini buku serius tentang ketakseriusan, sebuah pencerahan tentang keusilan, sebuah iluminasi tentang kegilaan. Ketakseriusan kini menjadi bahan renungan dan refleksi. Keseriusan dan ketakseriusan adalah dua sisi karakter manusia yang tak bisa dipisahkan. Ketakseriusan kerap meletup dalam keseriusan, keseriusan sering menyelinap dalam ketakseriusan. Tapi, kita sering lupa, bahwa ketakseriusan itu sebuah keniscayaan hidup.

            Buku ini adalah sebuah ‘laboratorium ketawa’, atau tepatnya sebuah ‘pabrik parodi’. Di dalamnya kita diajak menelusuri berbagai panorama dunia ketawa, canda, sindiran dan kritikan yang tak biasa, aneh tapi juga gila. Di sana, kita ketawa dengan cara baru. Sebuah filosofi ketawa. Sebuah inovasi cara ketawa tentunya. Inilah sebuah parodi bahasa, sebuah permainan bebas tanda. Sebagaimana diajarkan Bataille, melalui permainan bahasa kita tidak hanya memparodi bentuk, objek atau orang-orang lain, tetapi juga memparodi diri sendiri, mengetawakan wajah sendiri.

            Bahasa adalah sebuah permainan, sebuah language game kata Wittgenstein. Akan tetapi, bahasa adalah permainan yang mengikuti aturan main. Orang yang patuh pada aturan main, tak mungkin ‘mempermainkan’ bahasa, dengan resiko kehilangan makna. Akan tetapi, buku ini mengajak kita untuk tak takut mengubah permainan bahasa, untuk membuka sebuah cakrawala pemaknaan baru.  Permainan bahasa baru itulah yang hendak ditawarkan di dalam buku ini, yang di dalamnya kata diputus dari rantainya, logika bahasa dijungkirbalikkan, kode bahasa diruntuhkan dan makna bahasa diaduk-aduk.

            Bahasa dan kebudayaan selama ini menjadi semacam bingkai (frame) dari normalitas, yaitu sistem aturan yang membatasi. Bingkai bahasa memasukkan yang relevan dan meminggirkan yang tak relevan; menawarkan yang menarik dan membungkam yang tak menarik; merayakan yang harmoni dan menyumpal yang sumbang. Bingkai budaya mengekspos yang estetis dan mencampakkan yang buruk; menghargai yang logis dan memberangus yang tak-logis; menampilkan yang esensial dan membuang yang banal. Buku ini melepaskan kita dari bingkai-bingkai bahasa dan budaya macam itu.

            Buku ini adalah sebuah gerakan ‘dekonstruksi’, kata Derrida, yaitu gerakan meruntuhkan, mencairkan atau merombak segala kemapanan, normalitas dan pembingkaian. Ia menggeledah dan merusak segala aturan bahasa, untuk membangun apa yang disebut Umberto Eco overcoding, sebuah pengkodean kreatif, subversif dan transformatif, yang mampu membawa kita pada alam bahasa yang tak biasa. Ia memutus rantai pertandaan yang normal, dengan mengkaitkan sebuah kata dengan sebuah makna dengan cara tak normal, tepatnya sebuah ‘keliaran semantik’.

             Selama ini, kebudayaan kita meminggirkan segala yang dianggap banal, tak-penting, tak-signifikan, tak-logis, buruk, janggal atau sumbang. Semuanya dianggap sebagai ‘ekses kebudayaan’ atau noise peradaban. Akan tetapi, Nietzsche mengingatkan kita, bahwa segala yang ‘terpinggirkan’ dari kebudayaan itu—yang abnormal, tak-logis, jelek, chaotic, iseng, aneh, dan buruk—juseru adalah mata air dari pengalaman estetis yang baru. Kita hanya menganggapnya hina, karena larut dalam bingkai dan ‘normalitas budaya’. Buku ini mengajak kita keluar dari normalitas kebudayaan itu, untuk mengembara dalam dunia kemungkinan bahasa tak bertepi.

Bagi siapapun yang terbiasa hidup dalam normalitas kebudayaan, dalam bingkai tanda-tanda, dan dalam kungkungan kode-kode bahasa, mungkin akan kesulitan memasuki labirin dan lorong gelap bahasa yang ditawarkan di dalam buku ini. Hanya yang mampu melepaskan diri dari segala normalitas, bingkai dan kungkungan macam itu, yang dapat menikmati keindahan panorama jagad ketawa dan semesta parodi yang mencengangkan ini, sebuah panorama hidup harian yang penuh kekocakan, kegelian tapi sekaligus kegilaan. Selamat mengembara. . .Jangan lupa berdoa!

 
Bandung, Pebruari 2011 

Blog EntryMay 21, '10 5:59 PM
for everyone
Dinukil dari
Buku Memoar yang sedang saya bikin:
"KESAKSIAN SURAYAH"


......................................................................................
......................................................................................
Pernah jalan-jalan ke Pluto? Ke Neptunus? Ke Mars? Saya sering, maksudnya kalau dihitung termasuk kebetulan saja saya lewat selagi menyusuri Tata Surya. Tapi yang sore tadi itu, saya benar-benar sengaja pergi ke Pluto! Ada urusan pribadi dan tujuan yang dirahasiakan.

Setelah urusan di Pluto beres, saya langsung pergi ke Neptunus, yaitu untuk keperluan yang lainnya. Itulah Neptunus, keadaannya sedikit lebih rame kalau dibanding dengan Pluto. Di Neptunus ada lumayan banyak mahluknya, mereka bergerak begitu bebas, lalu-lalang di jalanan, ketawa dan berbicara dengan sesamanya. Beberapa di antaranya ada yang berjualan di pinggir jalan. Dan saya senang bisa memberi klakson pada seseorang yang saya anggap mau menyebrang jalan.

Dari Neptunus, saya pergi lagi menuju Mars, tepatnya ke Mars Utara, karena memang harus ke sana, untuk suatu keperluan lainnya. Nyatanya itu dia Mars Utara yang sekarang, sama saja dengan Neptunus atau Pluto. Bedanya di sana banyak sekali polisi tidur.

Apa ini? Capek-capek saya datang, nyatanya biasa saja, jauh dari apa yang saya bayangkan tentang Mars, Pluto atau Neptunus. Tak ada alien itu, tak ada padang luas sunyi itu. Tak ada!! Saya pergi ke sana dengan pakaian biasa saja dan tanpa perbekalan semacam obat pengganti makanan. Di sana saya bisa bernafas dengan bebas, tanpa alat bantu. Bahkan saya tidak melayang, saya lihat orang lain juga tidak. Benda-benda juga tidak.

Sekarang saya sudah di sini, sudah di ruang kerjaku lagi. Duduk dengan seksi menghadapi layar komputer. Menulis cerita tentang pengalaman saya pergi ke sana, menyusuri Tata Surya, ke Mars, Pluto dan Neptunus. Saya bersaksi seratus persen kamu tidak akan pernah percaya bahwa yang saya ceritakan ini adalah sungguh-sungguh kisah nyata, kisah yang benar-benar saya alami, kecuali kalau saya beritahu bahwa di Bandung ada komplek perumahan yang bernama Margahayu Raya. Itu adalah komplek perumahan yang katanya terbesar di Asia Tenggara, tiap jalannya diberi nama dengan nama-nama planet.

Iya betul, tadi sore, sore yang gerimis itu, saya pergi ke sana. Sekarang sudah jelas bagimu Tata Surya mana yang saya susuri, Neptunus mana yang saya maksudkan. Pluto mana, Mars Utara mana yang saya datangi. Tapi kini langsung saya menyesal karena sudah memberitahu kemana sebenarnya sore tadi itu saya pergi, ini sudah membuat cerita saya menjadi tidak berkesan lagi.
......................................................................................................
......................................................................................................


Blog EntryApr 11, '10 11:05 PM
for everyone

KITAB AL-ASBUN
yang insya ALLAH baru selesai cetak tanggal

13 APRIL 2010
Masehi.
Diterbitkan oleh Mizan
Harga: enggak tahu
dapatkan di toko buku baku yang buka





Surat XIV:
TOILET


14:1    Pagi yang cerah dan bau wangi roti bakar, ketika aku sudah berada di sebuah taman untuk mengamati tanaman yang dimakan oleh hama. Saya menoleh ke belakang agar bisa melihat orang yang berbicara kepada saya. Dia adalah kedua anakku yang bertanya: “Wahai, Ayah, sedang apa?”.

14:2    Sambil berdiri, aku berkata: “Hai, kemarilah, Ayah sedang berbicara dengan semut”.
Satu dari mereka bertanya: “Waaw, apa katanya, wahai Ayah?”.
Aku menjawab: “Semut berkata, katanya dia lebih berani daripada manusia”.
Mereka bergegas mendekatiku dan bertanya lagi: “Bagaimana dia bisa berkata seperti itu?”.
Aku menjawab: “Katanya dia itu mahluk kecil, setiap mereka keluar dari sarangnya mereka mungkin akan terinjak, tetapi mereka tetap pergi keluar untuk mencari makan”.
Mereka berseru: “Iya itu benar, Ayah.
Kemudian kami mengambil segumpal tanah, dan dengan itu kami membuat monumen semut.

14:3    Salah satu dari mereka berkata lagi: “Ceritakan kepada kami tentang binatang, Ayah?”
Aku ajak mereka duduk di sebuah bangku yang tidak jauh dari taman. Aku berkata: “Dengarkanlah, seandainya engkau adalah seekor kucing, jangan disebabkan karena menggonggong sedang menjadi trend di masyarakat, maka hal itu menyebabkan engkau pergi kursus belajar menggonggong. Mungkin pada akhirnya engkau bisa, anakku, tetapi apa kata orang jika ada kucing yang menggonggong, padahal sesungguhnya kucing itu mengeong, karena itulah jati dirinya yang asli?”
Mereka berseru: “Terimakasih, Ayah, atas apa yang engkau sampaikan”

14:4    Kataku lagi pada mereka: “Dan dengarlah, Anakku, sekiranya kalian adalah seekor bangau, jangan karena engkau ingin nampak gagah seperti harimau, maka telah menyebabkan engkau pergi membeli surai, barangkali engkau bisa membelinya, tetapi apa kata orang demi melihat ada seekor bangau yang memiliki surai. Seandainya engkau benar-benar ingin tentram dan juga ingin merasa nyaman dengan keadaan dirimu, maka jadilah dirimu sendiri.

14:5    Aku berkata lagi: “Seekor tikus, anakku, dia tinggal berada di dalam got, tetapi dia tidak akan merasa hina oleh karena itu, melainkan di sana lah tempat baginya yang nyaman, betapa pun harus dibandingkan dengan tinggal di atas ubin yang terbuat dari emas”. 

14:6    Kataku juga pada mereka: “Seseorang yang hidupnya miskin, Anakku, apabila dia kepada semua orang mengaku dan menunjukkan dirinya seolah-olah adalah seorang yang kaya, maka dia akan cemas lagipula lelah, karena kuatir kelak orang akan tahu bagaimana nyata dirinya”
Salah satu dari mereka bertanya: “Bagaimana kalau dia kaya raya, Ayah, tetapi mengaku dan menunjukkan dirinya seolah-olah dia adalah orang miskin?”
Jawabku kepadanya: “Apa yang harus dia kuatirkan seandainya kelak orang tahu bahwa dirinya kaya raya?”
Dia menjawab: “Tidak ada, Ayah”
Kataku lagi: “Atau mungkin dia melakukan itu karena di seorang yang kikir”.
Mereka berseru: “Oh, iyaaaa”

14:7    Salah satu dari mereka bertanya, yaitu setelah aku melihat dia tercenung beberapa saat  tadi: “Ayah, Ayah!”
Maka tanyaku kepadanya: “Apa, Nak?”
Dia bertanya: “Tadi itu ayah berkata tentang bagaimana kalau seandainya kami adalah seekor Kucing atau Bangau. Lalu bagaimana seandainya ayah adalah seekor monyet?”
Aku tersenyum dan menjawab: “Kalau seandainya ayah seekor monyet, maka tentu saja anaknya juga adalah seekor monyet”

14:8    Dia berkata: “Oh, tidak mungkin, Ayah”
Maka tanyaku kepadanya: “Bagaimana hal itu tidak mungkin?”
Dia berkata: “Kalau ayah seekor monyet maka berarti kami tidak akan pernah ada di dunia”
Tanyaku kepadanya: “Mengapa?”
Dia menjawab: “Karena ibu pasti tidak akan mau menikah dengan ayah”
Kami semua tertawa dengan penuh sukacita.

DAN SETERUSNYA......


Terimakasih

Blog EntryApr 11, '10 4:06 PM
for everyone
OBROLAN YM DENGAN SURYASA

suryasa: Malem, Yah
pidibaiq: Malem apa?
suryasa: Ha ha Malem kamis
pidibaiq: Makasih infonya. Eh, kebetulan, mau nanya
suryasa: Nanya apa, Yah?
pidibaiq: Udah pernah lihat Daniel ciuman belum?
suryasa: hahahaa belum...lagian males. Yah, poster gimana?
pidibaiq: Tadinya mau minta bagi-bagi cerita soal ciuman Daniel dong. Eh, poster mana?
suryasa: Yang dulu itu, yang utk the panas dalam
pidibaiq: Eh iya mana?
suryasa: masih bingung, Yah.. harus gimana?
pidibaiq: Bebas aja  yang penting mah ada. Nanti asistensi ke saya
suryasa: yuda pengen ketemu, ngobrol content nya.
pidibaiq: siap disms aja kapan bisa ketemu. Selasa sore? Bagus tuh hongsui nya
suryasa: Ha ha ha hayu. Insya Allah Saya ke sana
pidibaiq: iya boleh. Jangan lupa bawa kue ah. Amanda
suryasa: hahahahha, manja
pidibaiq: jam 5 an
suryasaa: ok. Eh, Yah udah ke pamerannya kang Hasmi?
pidibaiq: Gak boleh datang kata Hasmi. Kamu mah gak usah, Pid, gitu bilangnya
suryasa: hahahha masa sih?
pidibaiq: Iya ngomong gitu
suryasada: Kenapa?
pidibaiq: Takut dicorat-coret, katanya
suryasa: wkwkwkkkk
pidibaiq: Kalau kamu datang mau diberesin, katanya. Sms begitu ke saya. Jadi udah ge enak sejak awal mau datang juga
suryasa: hahahaha, gitu-gitu banget
Pidi Baiq: Mau ditampar takut bilang ke si Jaris. Bakal jadi masalah besar.
suryasa: hahahahaa...
pidibaiq: Ya udah biar saya tentrem saya anggap dia belum dewasa aja
suryasa: Pusing sama Om Jaris mah. Bener kata Ayah
Pidibaiq: Kebanyak temen-temen itu bikin pusing. Kayak si Osman. Dia itu Online kalau saya Online. Kayak yang mau memata-matai saya
suryasa: hahahhaa... Om jaris disamain sama si Osman?
pidibaiq: si Irna jadi mau sama Osman itu karena saya bantun
suryasa: Iya, Yah?.. Wah. Bisa begitu ha ha ha
pidibaiq: Saya ngomong ke si Irna, biarin Osman item juga, Na, yang penting gede
suryasa: hahahahahahaaaa
pidibaiq: si Irna nya ketawa, tapi besoknyaa dia jadi mau sama Osman
suryasa: Dan asal dimatiin lampunyaa
pidibaiq: Iya saya ngomong gitu juga. Ngomong ke dia: Kalau mau gituan matiin aja lampunya. T*t*t kan punya mata sendiri. Jangan takut salah
suryasa: maklum poeeek.. wkwkwkwkkk
pidibaiq: Lagi salah juga gak apa-apa, kan gak sistem min
Suryasa: Ha ha ha
pidibaiq: ya gitu, seperti belut aja gimana, yang penting bisa masuk lobang
suryasa: hahahahaa ngurek
pidibaiq: Irna bisa pake terigu kalau mau pered megangnya. Biar gak licin
suryasa: huahahahahahaahahahaaaa terigu bangeeeeeeeeeet
pidibaiq: si Irnanya malah nutup muka pas aku omongin gitu
suryasa: hihihihhiiiii...
pidibaiq: jadi saya kabur aja. Pas dia buka mukanya sayanya sudah ga ada. Keburu pulang
suryasa: hahahahahaaaa...
pidibaiq: tapi dia sms malemnya
suryasa: paraaahh
pidibaiq: "Jenis terigunya bebas, Yah?" nanya gitu. Saya ketawa kenceng
suryasa: huahahahahaaaa
pidibaiq: sampe istri saya nanya ada apa? Saya jawab: Itu pacarnya Osman sms nanya terigu apa, supaya gak licin megang t*t*t Osman
suryasa: ha ha
pidibaiq: Kata istri saya: jangan terigu lah, Ayah. Kasihan atuh
suryasada: atuh jadi pered.. watir  wkwkwkwkkkk
pidibaiq: Kata saya ke istri: Kalau belut si Osman mah kayak belut empang, Buuuu. ga bisa pake bedak
suryasa: hahahahahaa... emang karamboooool?
pidibaiq: kebayang sama saya kalau si Irna lagi gituan sama Osman, jadi pada putih mukanya penuh terigu.
suryasa: ha ha ha punya si Osma mah pake garam atau tembako
pidibaiq: Sejenis lintah ya? Saya kasihan sih sama Irna, belum ngasi tahu lagi supaya jangan pake terigu. Tapi biar deh udah kagok
suryasa: hahahahaa...
pidibaiq: kebayang kalau si Osman nanya pas berdua sama Irna, Kenapa pake terigu? Irna menjawab: “Disuruh Pidi”. Bisa malu gua
suryasa: ha ha ha mau dibikin jadi molen
pidibaiq: Sebenernya bagus pake terigu, daripada digaris-garis dulu pake pisau biar gak licin, tapi sakit sih. Gak akan kuat model si Osman mah
suryasa: huahhaahaahaaa...emang model gimana yang kuat? Perasaan semua juga ga akan kuat
pidibaiq: Gak tau tuh, belum nanya ke mas Hendri. Tapi Mas Hendri juga gak akan kuat sih.
suryasa: huaahahahahaaa...Mas Hendri!!
pidibaiq: Gak usah ditanya lah
suryasa: Gimama kalau pak Osa?
pidibaiq: Pa Osa mah udah ga usah make t*t*t atuh.
suryasa: Kenapa?
Pidi Baiq: Dia mah gituannya kan telepati
suryasa: huahahhahaaaa..
pidibaiq: Nah kalau si Jaris gak usah pake apa-apa
suryasa: Kenapa?
pidibaiq: langsung aja dikilo. Jual. Mentahnya juga enak
suryasa: hahahahahaa...
pidibaiq: Tapi kata si Maldi ada sisiknya
suryasa: hihihihiiii...
pidibaiq: "Emang kamu pernah lihat, Di?" saya nanya. “Malahan megang”, katanya, gak sengaja.
suryasa: hahahahahah... ngewa. Si Maldi jadi manis begitu
pidibaiq: jadi waktu si Maldi mau ambil teh botol di kulkas. Si Jaris lari buka sleting, ngedeketin kulkas. Jadi aja si Maldi salah ambil
suryasa: ha ha ha ujug2 muka sleting?
pidibaiq: si Maldi juga langsung istigfar. Terus kata si Jaris: Kamu mah pas megang titit aja baru istigfar" Si Maldi jadi malu: ”Habisnya kaget sih Om Jaris”
suryasa: hahahahahaa...
pidibaiq: sejak itu si Maldi suka nyuruh saya kalau mau ambil teh botol. "Sendiri aja lah Di, kan gak ada Jaris. Lagi miting. "Ah enggak, takut gak taunya ngumpet di balik kulkas"
suryasa: hahahhahaa
pidibaiq: Si Maldi jadi penakut gitu. Kamu ngeliat ga si Maldi suka merah mukanya kalau ketemu istri Jaris?
Suryasa: Kenapa?
pidibaiq: ya itu, ngrasa feeling guilty, udah ngedahuluin megang punya Jaris
suryasa: edasss bahasanya mah western uy: feeling guilty
pidibaiq: diajarin si Huda, katanya: ”Pid, rada inggris atuh lah, biar Huda ngerti”.
suryasa: hahahahhaha, bahasa anak muda masa kini
pidibaiq: kadang-kadang saya suka sengaja menjauh, mereka itu pada belum dewasa. Kayak siapa itu yang jadi pelayan kantin?
Suryasa: Mang Adin?
pidibaiq: Iya. Kalau ngasi indomie, tangannya suka sambil megang tangan saya
Suryasa: Aduh rindu kantin euy
Pidibaiq: Saya sih enggak. Males ketemu Pak Obi
Suryasa: Ha ha Pak Obi kenapa?
pidibaiq: kan dia marahan sama si Pak Arna (pemilik kantin)
sueyasa: hah? Kenapa?
Pidibaiq: gara gara dia beli rokok, tiap batang rokoknya semua dimasukin korek api sama si Pak Arna
suryasa: pa Obi?.. hahhaaa
pidibaiq: "Becandalah Pak Obi", katanya. Saya ada di situ kebetulan
suryasa: hihihihihihiii...ga kabayang si pa Arna ngomong gitu
pidibaiq: "Kamu kalau saya laporin, bisa disegel kantin ini tau" kata si Pak Obi
suryasa: ha ha ha ha
pidibaiq: aku ga bisa apa-apa waktu itu. Diem aja
suryasa: ha ha ha
pidibaiq: mau bantuin si pak Arna, tapi si pak Obi baik pernah ngasih cd film A** A***ri yg gak disensor
suryasa: HA HA HA HA
pidibaiq: Mau ngabela si Pak Obi. Ga enak juga. Si Pak Arna kan deket sama si Deden (pemelihara Iguana)
suryasa: hahahahahaaa..
pidibaiq: "Deden kenapa kamu deket banget sama si pak Arna?” saya pernah nanya gitu
suryasa: apa jawabnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ha ha
pidibaiq: "Gimana ya, dia itu udah dianggap ayah" mgejawab gitu
suryasa: Ayah angkat?
pidibaiq: "Dianggap ayah kamu?". Bukan katanya; "Bukan, Pid, Ayah Iguana saya". Eeeeeehhh
suryasa: hahahahaha
pidibaiq: "Beneran"
suryasa: ha ha
pidibaiq: "Kamu jangan sampe pak Arna denger lho, Den”. Udah kagok katanya, udah ngomong
suryasa: ha ha ha kurang ajar si deden
pidibaiq: Hah? "Dia seneng kok" katanya. Terus apa katanya, Den?
suryasa: terus apa katanya, Den?
pidibaiq: "Ya dia juga nganggap anak ke saya"
suryasa: "Anak Iguana?"
pidibaiq: "Anak kandung kemih”
suryasa: hahahahaha... sama lieurnya
pidibaiq: "Kalau kamu pernah megang bujur si Ibu Arna?' saya nanya ke Deden
suryasa: Ha ha ha
pidibaiq: "Belum sempet" katanya
suryasa: ha ha sibuk
pidibaiq: "Kapan dong?" Nanti aja pas Deden lagi tenang, biar total, sekarang masih banyak masalah, katanya
suryasa: hihihihiii
pidibaiq: "Ah yang penting mah niat, Den"
suryasada: hi hi hi
pidibaiq: "Makasih, Pid, motivasinya"
suryasa: ha ha ha poek
pidibaiq: Saya pikir kawan-kawan saya itu sudah pada dewasa: Si Ane juga gak bener
suryasa: eits...apa nih jadi nyambung
pidibaiq: tiap hari nyuruh saya bikin tahi lalat di dagu. pake rapido. Dia kan suka sama Rano karno
suryasa: hihihihiiii
pidibaiq: saya udah ngerasa gimana ya sama si Ane itu. Apalagi saya kan orangnya males nurut perintah manusia
suryasa: ha ha untung rapido ga pake rugos
pidibaiq: pernah sih saya bikin tahi lalat. Nurut si Ane, tapi di pipi. eh malah disebut kayak monyet
suryasa: perasaan monyet mah ga ada tai lalatnya?
pidibaiq: ha ha...maklumlah. Ane kan pengetahuannya lemah
suryasa: bener ha ha
pidibaiq: saya pernah nanya, emang monyet ada tahi lalatnya? Dia jawab ada, tapi yang di gembira apa itu, gembira loka ya kebon binatang yang di Surabaya. Anjiiing jauh pisaaaan!!!
suryasa: ha ha ha
pidibaiq: si Ane jadinya ngambek, disebut anjing
suryasa: hahahaaaa
pidibaiq: saya nanya ke si Nina
suryasa: nanya apa?
pidibaiq: kenapa si Ane jadi gitu ke saya "Pidi sih, kesinggung dia disebut Anjing" Iya lupa, Nin. Kirain saya, dia itu kamu, kata saya. Jadi Nina juga ngambek
suryasa: ha ha ha

(Dan lain-lain yang tidak saya cantumkan karena takut jadi panjang)

Obrolan yang samasekali tidak berbobot, Oh saya tahu, tapi ini tersimpan di file saya sebagai sebuah kenang-kenangan. Selamat jalan Suryasa, semoga amal ibadahmu diterima di sisi Allah. Maafkan saya untuk banyak hal dari saya yang tidak engkau sukai. Maaf saya aplod ini tanpa izin darimu.   


Blog EntryApr 8, '10 3:08 AM
for everyone
22. ALIENASI
Pidi Baiq

Dinukil dari buku "HANYA SALJU PISAU BATU" (belum terbit)


”Pidi”.
Eh?
”Denger, Pidi!”
Siap Boss.
”Saat karyamu diukur dari banyaknya rating atau tidak, kau sejak itu telah menjadi objek dan tidak bedanya dengan robot dalam mekanisme pasar”
Eh?
”Kau akan menjadi budak yang dikontrol oleh hal-hal yang ada di luar dirimu. Dikuasai oleh kekuatan yang ada di luar dirimu. Bukan menjadi dirimu sendiri, bahkan kau akan merasa asing pada diri dan kehidupanmu sendiri”.”
Hmm
”Kau hanya akan dianggap instrumen. Kau sama sekali tidak akan dianggap sebagai makhluk sosial”
..............
”Kau akan dipandang sebagai komoditi yang bisa diperdagangkan di pasar”
Oh
”Kau benar-benar akan menjadi bukan dirimu. Kau sama sekali bukan artist melainkan buruh. Buruh seni”
Iya
”Lakukanlah pekerjaanmu itu bukan untuk suatu tujuan yang ada di luar dirimu”
Uang maksudmu? Harta? Jabatan?
”Spirit adalah produk manusia. Bukan sebaliknya”
Setuju
”Manusialah yang menciptakan kebudayaan, Pidi”.
Iya
”Manusialah yang menciptakan sejarah”
Bentar, Om
”Apa?”
Tapi saya harus menghidupi anak istriku
”Uanglah yang seharusnya membutuhkanmu”
Bagaimana bisa?
”Sampai engkau memiliki kualitas diri yang menyebabkan uang yang akan membutuhkanmu.
Siap grak
”Spirit adalah produk manusia, Pidi, bukan sebaliknya. Bukan sesuatu yang ada di luar dirimu”
Hmm
”Saat spirit berkaryamu diproduksi oleh materi, kau akan terasing dengan pekerjaanmu sendiri. Kau akan bekerja dengan tidak mendapatkan kepuasan sama sekali di dalamnya. Kau tidak akan diberi kesempatan mengatur untuk keadaan dirimu sendiri. Kau akan diatur oleh kuasa di luar dirimu”
Tapi ada yang senang dengan meskipun dia begitu
”Itu dia. Kepuasan popularitas dan rasa senangnya diatur oleh kuasa di luar dirinya. Sampai pada saatnya semua orang kemudian mengabaikannya maka segera dia akan merasa mati”
Iya
”Jadi di saat tujuan hidupmu hanyalah materi, maka materi itu akan menjadi alat untuk merasionalisasikan hubungan sosial. Hubungan sosial manusia seketika akan disederhanakan menjadi suatu kegiatan pasar.”
..........
“Itulah saat di mana kapitalisme benar-benar menancapkan pengaruhnya”
ya
”Kau akan dieksploitasi!!!”.
Hai. Kau Karl Marx kan?
”Aku bersama Epictetus”
Kenapa Epictetusnya diam aja?
”Ya, Pidi?”
Kenapa diam?
”Baiklah. Dengar ini, hai Pidi, apabila engkau menccoba memainkan peran di luar peranmu, maka kau tidak hanya akan membuatmu sedih dan malu, tetapi juga mengabaikan bagian yang seharusnya dapat engkau mainkan dengan sukses”.
Hmmmm.
”Selain itu, Pidi, dengarlah aku”
Iya, Om Tus
”Engkau sudah terbiasa dengan takdirmu sebagai orang yang berlawanan dengan apa yang menjadi pandangan umum masyarakat"
Hmm
”Sesungguhnya itulah yang akan menjadi lettak dasar dari cara menilaimu yang abadi”.
Iya
"Salam untuk personil The Panasdalam"
Akan saya sampaikan
"Salam Sayang"
Eh? Terimakasih

Bandung 2010, sehabis bermain bersama anak-anakku


Blog EntryJan 27, '10 12:17 AM
for everyone

KUMPULAN TULISAN STATUS FACEBOOK PIDI BAIQ

"Mengkaji ulang masa lalu yang indah dan seksi"


1.
"Masa' Haji punya anjing?"//Eeeh, bukan begitu, Pak Ustadz, tapiiii..'anjing punya haji'. Gituuu. Kan bagus tuh? Anjing punya haji? he he he mabrur lagi//"Si Pak Haji mah ngabodor terus"//Yang ngabodor mah bukan Haji atuh, Pak UStadz, tapiii pelawak//"Ha ha..iya tahu". (Oh Bebe, terimakasih, sudah mendidikku untuk ngobrol gak nyambung)

2.
Mau tau apa yang aku pikirkan? Ini lagi brfikir ingin nulis status: "SEDANG MELAJANG". Tapi kan si Suribu punya Facebook. Uh, nanti dia baca. Terus ngasih komen: "Heh, Surayah, apa ini, ngaku-ngaku masih lajang". Oh ya ya, aku tau, nanti aku jawab aja: "Bukan, Ibu. Itu ejaan lama. Maksudnya SEDANG MELAYANG". Siap grak!

3.
SMS untuk Tati: Tati, sy lg sm Dayat. Dia rindu. Pengen shalat diliatin sm Tati. Pengen ngrujak yg pedes, tp ada Tati biar Tati tau Dayat kuat. Pengen ngirim photo Dayat waktu kcil, waktu masih lucu. Pengen Azan subuh di msjid dkt rmh Tati, khusus buat Tati. Trus jgn snyum katanya, Dayat jd suka gmeter.

4.
Dari apakh malam di sini dibuat?/Dari suara gitar dipetik/Dari suara domino dibanting/Dari suara tawa dilepas/Dari cuaca dingin di Bdg/Dari 7 org kwn yg kokoh/Dari Dayat yg brkaos kuning brtuliskn "Korban Bom Hirosima"/Dari Mang Akim yg bikin kopi/Dari Teh Pipit pnjaga kios yg dipaksa nyanyi Genjer2 tp gak mau. Dari sore tadi.

5.
Cape skali tp lega. Habis ngepel trs nyuci piring. Ngelap kaca jndela. Nyiapin makan anak. Paling males nytrika, tp alhamdulilah udah kelar smua. Skrng saatnya santai, nonton musik mlayu di TV smbil smsan sm teman2. Tp sebel, sore hrs prgi kursus loncat indah. Ujian lagi. Coba kau cari, suami mana sama macam aku nih. Kalo ada, brarti aneh.

6.
Kalo sepi, gampang, tinggal sms Dayat: "Yat, tolong telepon ke HP sy ya, HP sy hilang". Maka sdh bisa sy tebak, benar2 dia miscall, pdhal harusnya tau: sy sms dia kan dg HP yg tadi sy bilang hilang itu. Kau pikir aku ga bs mnghipnotis orang hah? He he.. coba kau praktekan ini kpd temanmu. Semoga sukses.

7.
Ayah tau, Timur, kamu pasti malas sekolah. Ayah ga bisa nyuruh kamu rajin, pdhl ayah jg dulu malas. Ta ada org yg suka skolah, tp hanya org hebat yg ttp skolah. Kamu hrs brsyukur, biar pun malas ayah ttp skolah, jadinya skrg kamu punya ayah yg skolah. Prgilah skolah, Nak, bukan untukmu, tp untuk anak2mu, cucu ayah. Salam buat gurumu dr ayah.

8.
Tiap orang pasti nemu nama toko yang membuatnya tersenyum atau ketawa, saya juga, saya nemu dua: Toko meubel dengan nama : "SOFA MARWAH" dan bengkel motor di daerah jalan Suci: Bengkel motor "YAMAHA SUCI".

9.
SMS ke istri Ihsan: "Win, kalau misalkan Ihsan nikah lagi, mau ngado apa? Penasaran pengen tahu". Gak dibales.

10.
Sambil FB, ngobrol dg kawanku yg cadel, maka yg kudengar darinya: ASTO BOY. KONSTUK. TWIDI. AVATAY. LAPAW MATA. SENSOL. PETANYAAN. BEWUBAH. SEWIUS (Serieus), NGOPLEK (ngoprek), LAJIN, BAYAL, MACBOOK PWO. KEWTAS. (R = W, L, atau dihilangkan)

11.
Indonesia tumpah darahku/kekayaanmu milik negara/di sanalah aku berdiri/tanpa sandang pangan dan papan////Indonesia tanah airku/tanah digusur air mataku/kepadamu harus berbakti/maaf sibuk harus cari nasi. (PB.1996)

12.
Puisiku waktu SMP: Uh engkau, untuk apa aku tau rmh mu/Tp ta bs k sana/Aku sesalkan itu rmh ayahmu/Untuk apa 1 klas dg mu/Tp tdk bljr brsm, pdhl itu bagus/Aku sesalkn siswa yg krg aktif/Kau, sdh mngnal aku, mk mana sayangmu/aku sesalkn kau bnyk knalan/Sjak kpn aku mulai ta suka org lain?/Hai,catatlah/Sjak kutau di dunia ta cuma ada aku & dirimu/Mrepotkan.

13.
Bebe kan cucu kakek. Pagi2 Bebe suka diminum gak sm Kakek?//"Haah dimiiinum?"//Iya. Kan, pagi2 Kakek minum cucu?//"Eh? Bukan cucu ini, Ayah...Eeh"//Suka ktuker gak?//"Nggak kok"//Bebe jgn masuk glas ya kalo ada Kakek, ya?//"Haaah?"//Eh, iya. Nanti diminum lho//"Haah?"//Apa Bebe ini? Hah hah trus?//"Haah? he he"

14.
Brsma Timur & Bebe, nyanyi2 & bicara ttg matahari, yg td pagi ngambilin air di laut,di sungai,di jmuran,di lobang jalan,di mata hati yg sdih, di comberan dll. Stlah brsih dikirimnya lg k bumi, o mjd hujan. Lalu dia smbunyi, ta harap dpt puji, sbb ia bgitu krn ada printah. Dan, angin mnyuruh kita pake jaket, biar kita tdk sakit. o, Nak, itu baik skali.

15.
Hai, jgn dilempari!! Itu anjing sy//"ini, A ngeganggu ayam"//Bapak jg jgn mngganggu anjing sy//"Diiket dong, A"//Bapak mau nggak diiket?//"Eee...ini, A, anjingnya mngganggu"//Ayam Bapak jg mngganggu org//"mngganggu apa?"//Nyebarin flu burung. Lari kemana anjingnya?//"Ke sana"//Kalo makan ayam bapak, biar nanti sy ganti...

16.
Yat, kalau nanti saya masuk sorga, terus kamu masuk neraka, gimana?//"panggil aja saya, Boss"//Oh yess, siap grak//"Boleh gitu, Boss"//Gak boleh sama siapa?//"Allah, Boss"//Bilang aja mau mijit//"Betul, betul"//Mijitnya yang lama//"Uh, capek, Boss"//Kan biar kamu bisa lama di sorganya//"Iya siap"

17.
Dayat lagi, saya memberi dia buku tulis, di sana Dayat boleh tulis apa-apa dia mau. Itu sudah seminggu yang lalu, malam ini saya periksa buku itu tanpa dia tahu, untuk memberitahu kawan-kawan tentang ada salah satu tulisan dia yang saya paling suka: "RAJA JIN PANGKAL PANDAI"

18.
"KAU KAU KAU" Kau mngajari aku mngucapkn kata2 baru/kau adlh yg tdk mmbunuhku slgi msh bayi/kau adlh yg tdk mgutukku hgga mnjd batu/kau sbut nama aku pd tiap ucapdoamu/kau jauh lbh tinggi dr aneka mcm sorga/kau tanyakn khbrku disaat aku tnggl jauh/kau adlh yg lunglai disaat aku minggat prgi/kau adlh yg malu disaat aku ...

19.
Ketika hari ini aku sakit, anjing mnggongong di garasi, tp aku sakit atau tdk, dia ttp sj mnggongong. Awan brgrak, tp psti awan slalu akan bgitu. Angin brhmbus brasa sgt dingin, tp ini krn bln Dsmber. Daun2 brguguran, tp krn mmng sdh waktunya hrs gugur. Langit merah, tp itu hny pd lukisan karya Timur. Apkh ada hal yg bn...

20.
Pak Haji (yg manis-red), nitip pngumuman ya: SKY 90,50 FM RADIO, mnghadirkan event off air: “Poetry in Motion” dg thema PUISI PATAH HATI. Sabtu, 12 Dsmbr 2009, pkl 19.00 s/d 21.00 di POTLUCK COFEEBAR AND LIBRARY. Jl. H. Wasid 31 Bandung. Mndatangkan jg: KARNATRA MUSIK, BUDI dg slh satu singlenya DIA, jd soundtrack VIRG...

21.
Lg bikin dsain Piagam Pnghargaan untuk sy brikan kpd sy sndiri, yg trpilih sbg AYAH TELADAN YG MENAKJUBKAN se Indonesia. Ini dsainnya bnar2 hrs bagus ya, untuk ditempel di ruang tamu. Jg harus bs myakinkan ibu2 yg suka dtg k rmh, bhw itu asli, bnar2 dibrikan oleh KOMITE INDEPENDEN PEMANTAU AYAH SEINDONESIAA. Hrs bikin ...

22.
Anak-anakku lah yang telah menyebabkan aku menjadi orang tua, padahal sesungguhnya aku ini masih muda.

23.
"KUNANG-KUNANG" (untuk bebe) Kunang2 banyak terbang, kuning2 malam kudus hening//Ada satu Kunang2, lihat terbang bergoyang2//Kunang2 apa sama, bila pusing matamu berkunang2//Jangan sayang, mentang2, Kunang2 banyak begadang. Reff: Wahai kau selalu kukenang, bila ku berkunang2//Wahai kau selalu kukenang, bilaku terkenang-kenang.

24.
Pantun: Bpk Ade ttanggaku baju tidurnya warna hitam, dia mmbuka pintu rumahnya yg kuketuk teriak "Ibu!!!"--Brtanya dia krn heran ada apa malam2, aku trkejut & aku bilang maaf kukira ini rumahku//Bapak Ade & Ibu Ade ktemu aku td pagi, Ibu Ade brtanya pula soal smalam salah alamat--aku snyum mminta maaf smalam kurang konsentrasi...

25.
Sebenarnya sekarang saat yang indah untuk merampok Bank. Tapi lebih baik jangan deh, pasti ketangkep, karena kita belum latihan sama sekali. Setuju, Dayat?. "Setuju, Boss!".

26.
Hari ini aku menang lagi, main catur lawan Bebe dengan skor 24 - 0 dalam waktu yang sangat singkat. Mudah-mudahan bebe kagum meskipun saya merasa kasihan.

27.
Dayat minjem uang 20 000 ke saya, janjinya rabu tanggal 4 November 2009 mau bayar, tapi sampai sekarang belum juga bayar. Kalau ditagih, katanya saya juga punya hutang ke dia 15 000. Alasaaaaaaan!~

28.
Dijual Cepat: sebidang tanah sebagian dari halaman rumahku, ukuran 1 meter kali satu meter (udah dibatasi dg tali plastik), daripada mubazir, lumayan untuk berkebun cabe atau bawang. Harga nego.

29.
Istriku msh ingatkah apa yg prnh ku bilang pd mu waktu itu: kalo aku tampan & engkau suka pd ku, smua wanita di dunia jg bisa. Tp kalo aku tdk tampan & engkau suka pd ku, maka pasti hny engkau satu2nya wanita di dunia yg bisa. Dan mstinya kau bangga krn oh itu sgt luar biasa? Skrg ayah tak juga tampan tp banyak uang, Ibu :)

30.
Kedinginan sy ini, td habis brmain hujan, di dpn halaman kantor brsm dua karyawan. Oh jangan bilang ke Suribu, kami tlanjang dada dg pake clana pendek. Main prahu dari krtas untuk air deras di selokan. Bagaimana indahnya, itu spt kmbali ke masa lalu, hanya sayang tdk boleh tlanjang penuh.

31.
Smalam makan malam di rumah makan Sea food. Makan Barakuda bakar ato mungkin makan Berak Kuda, nggak usah tahulah saya, yg pasti enak & saya mmakannya dengan sambal dadakan sambil mendadak ingat Barak Obama dan juga barak-barak tentara Amerika yg kasian negaranya maju tapi malah makan debu di Afghanistan.

32.
Timur, Bebe, cecak itu hrs bs mnangkap nyamuk biar pun nyamuk itu bs trbang, krn itu makanannya. Mrayap di dinding mndengar org bicara. Bangau itu kakinya tinggi, brdiri ngantuk di air rawa, mngintai ikan dtng untuk ditangkap. Buaya itu yg mangap di tepian, makanannya daging bangkai yg bsar. Dan tikus, dia itu yg suka ..

33.
kalau ada yang tidak setuju "larangan belok kiri langsung", tentu saja salah satunya adalah dia: Valentino Rossi.

34.
Mas Ebiet G. Ade, maafkan anak saya, dia hanya kena kontaminasi sosial waktu saya mendengar dia nyanyi: "Barangkali di sana ada Jablayna..dst". Itu bukan jujur dari dirinya sendiri, tapi pasti dari Oomnya, Mas.

35.
Setelah lama ku renungkan, ternyata Superman benar. Dia tidak salah pakai, itu adalah celana dalam serep.

36.
Gempa itu seperti ketika kita merobohkan perasaan orang lain dan menghancurkannya. Membangunnya kembali dengan apa pun caranya, terutama dengan saling menjalin kasih sayang. Dan, tiap orang, sudah pasti punya jadwal sendiri untuk pergi, mudah-mudahan yang lebih dulu adalah untuk menemui kebahagiaan sesungguhnya.Aamiin.

37.
Kalau benar P3K itu singkatan dari Pertolongan Pertama Padahal Kedua, berarti selama ini kita ditipuuu, saudara-saudara!!!

38.
Kalau Kamikaze itu benar-benar usaha tindakan awak pesawat melakukan serangan bunuh diri. Kalau mau mati, kenapa pilotnya masih tetap pake helm? Tertib lalu-lintas banget!

39.
Bsok Ahad, dia akan prgi. Diantar smpai prbatasan oleh para astronom NU & Muhammadiyah, jg oleh iringan suara takbir. Bagi yg mrs direpotkan olehnya, sgra tiba bagimu mrs snang. Bagi yg mmahami rahasia kemuliaannya, mrasa sdih ditinggal prgi, akan psti bgitu, tetapi mudah2n bukan prpisahan, insyaAllah brtmu lg. SlamatHariBesar1430H. Taqobbalallahu minna wa minkum.

40.
Kalau ke saya..nanya masalah agama. Jangan nanya jalan. Saya gak tahu. Coba ke bapak itu, Bu/// "Oh iya. Makasih" (ngeeeeng!!) //Alaikumsalam! ---

41.
Boss, teh apa yang paling enak?///"Teh Tarik saya suka"///Bukan, Boss///"Terserah aku lah"///Ada, Boss, yang paling enak///"Apa itu?"///Teh HR///"Ah, kau"///He he he///"Bodor picisan ituuu!!"

42.
Sudah siap segelas air minum di atas meja, biar gak usah repot harus ambil ke dapur, kalau saya tiba-tiba lupa puasa. Kaaaan?

43.
Akhirnya aku bisa juga duduk berdua dengannya di cafe itu, makan, minum dan ngobrol soal banyak hal, dan juga tertawa, saya tidak akan berpisah ketika sudah waktunya untuk pulang, karena saya tahu di rumah ia akan dengan saya lagi. Dia adalah istriku.

44.
Aduh, imam magribnya cadel euy. Boleh gitu "Awohuakbaw"? Yang penting maksudnya. Tapi aku jadi gak khusyu.

Bersambung, Insya Allah


Blog EntryJan 9, '10 7:06 PM
for everyone
Di pagi buta ini, saya sedang terkenang pada masa dulu, masa selagi masih aktif suka nulis di multiply ini, suka ngaplod gambar, lagu dan photo-photo. Apa ini? kenapa belakangan sudah tak pernah lagi?

Saya segera menuduh facebook, sebagai salah satu penyebabnya. Tapi tidak juga, toh pada setiap saya buka facebook, saya biasanya sekaligus dibarengi dengan buka juga multiply ini. Tapi kenapa atuuuh tidak pernah lagi ngaplod tulisan? Tidak pernah lagi ngaplod lagu, kartun dan photo-photo, padahal kesempatan itu ada?

Apa ya? Atau karena mungkin sekarang saya sibuk? Sehingga tidak lagi ada waktu untuk mau menyengaja bikin tulisan buat diaplod di sini? Tidak ada lagi waktu untuk mau menyengaja menyiapkan aneka macam karya photo, kartun dan lagu buat saya aplod di sini? Enggak juga. Saya masih tetap sama seperti dulu, masih tetap punya banyak waktu untuk dipake bermain bersama teman-teman, bermain bersama anak-anak, ngadu kelereng atau main bola di halaman mesjid.

Dan pagi-pagi masih suka naik sepeda keliling kompleks, diikuti anjing saya yang baru, yang nakal dan suka mengejar anak-anak, juga ibu-ibu, yang kebetulan berpapasan dengan kami di jalan, oh indahnya mendengar mereka menjerit, mengoyak kesunyian pagi. Tetangga saya Budhi berkata: "Ah Haji cemana ini punya anjing?". Heh, Bang, siapalah aku ini. Tuhan yang Maha Suci, Dia tak cuma punya anjing, Dia punya semuanya yang ada di alam semesta ini, termasuk babi yang haram itu. Aku cuma punya satu ini.

Dan sore hari, saya masih tetap bisa menjalankan kegiatan nongkrong, yaitu bersama mereka yang nongkrong di sana, di pangkalan becak, di warung, di markas The Panasdalam dan di tempat lain yang seru untuk ketawa terbahak-bahak bagai sengaja untuk menembus langit agar besoknya menjadi halilintar.

Dan di malam hari masih tetap seperti dulu, pulang ke rumah langsung bercengkrama dengan orang yang ada di rumah. Makan. Minum. Ee kalau pengen dan juga cebok kalau pengen. Atau ambil gitar dan bikin lagu di ruang atas.

Atau nonton teve di ruang tengah, untuk mendengar lanjutan cerita rakyat modern, seperti cerita misteri aliran dana Bank Century. Cerita siapa itu namanya yang dikasih uang koin banyak sampai tiga truk itu, oh ya cerita Prita melawan Omni, yang kata si Timur mah Omnivora (ada di pelajaran Biologi katanya). Terus ada juga cerita tentang perseteruan antara si Cicak dan si Buaya, dan lain-lain sebagainya yang menurut saya itu sangat seru. Wah benar-benar harus ada, biar terus kita semua ini makin gila.

Atau nonton musik, tentang banyaknya aneka macam band baru. Hampir kebanyakan sama, laki-laki nyanyi lagu cinta tentang luka perasaan hati mereka yang hancur. Sedangkan perempuannya nyanyi lagu gembira tentang suka ria, seolah-olah senang sudah membuat luka hati setiap lelaki. Oh kasihan, jadi sekarang langsung saya doakan mudah-mudahan masalah cintanya itu bisa segera selesai. Aaamiin.

Dan menonton acara lawak. Kata Hasree, kawanku dari Pakistan yang bisa bahasa Indonesia dan ikut menonton acara lawak: "Ah. Ini kekonyolan saja. Apa kamu bisa mendapat pencerahan dari lawakan semacam itu?". Tidak apa-apa, Hasree, heeeh! Jangan mengkritik, biarin saja. Selama masyarakat masih butuh hal yang semacam itu, ya televisi akan memberi yang begitu. "Ok. No Problem. Ini bukan negaraku. Terserahlah". Nah, gitu dong. Biarin aja. Suka-suka mereka. Belum tentu kita bisa lebih baik dari mereka. Ok, katanya, lalu dia bercerita tentang Nasrudin Hoja, Abu Nawas dan siapa lagi itu namanya, saya sudah lupa. Katanya ada banyak hikmah yang dia dapatkan dari mereka.

Jadiiii? Terus apa alasan sebenarnya sehingga saya gak pernah ngaplod tulisan, kartun dan photo-photo lagi di multiply ini? Apa ya?  Ooooo ya, saya tahu, mungkin karena belakangan ini saya sudah jarang nulis lagi, sudah jarang bikin kartun lagi, sudah jarang ngoprek-ngoprek photo lagi. Kenapa? Ya, jelas, karena saya tidak seperti dulu lagi, yang suka menyengaja nulis untuk diaplod di sini, yang suka menyengaja membuat karya kecil-kecilan untuk diaplod di multiply ini. Iya kenapa? Gak tahu, tapi yang jelas sekarang saya ingin segera mulai lagi untuk menyengaja bikin tulisan dan karya kecil-kecilan untuk diaplod di multiply ini.

Mudah-mudahan bisa memberi penghiburan kepada kawan-kawan saya sesama pengguna multiply. Aaamiin.

Oh matahari sudah terbit, segera ambil sepeda dan pergi ke sana bersama anjingku yang mungkin dia masih ngantuk. Semalam dia bunyi terus.








 




 

          

Blog EntryOct 28, '09 2:01 AM
for everyone
MIZAN
bekerjasama dengan
toko buku Gunung Agung
insya Allah menyelenggarakan:
Pidi Baiq bedah buku Drunken Marmut
dan, masya Allah, nyanyi.
Di atrium BIP -Bandung Indah Plaza-
Sabtu 31 Oktober 2009
pukul 15:00 sampai 16:30



Aga//Mizan

Blog EntryOct 15, '09 2:45 AM
for everyone
Kata Pengantar dari saya untuk buku
BOCAH MUSLIM DI NEGERI JAMES BOND


Namun Imran Ahmad tetap indah


Dengan nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang. Jika ada orang bertanya, siapakah yang ingin dapat peluang untuk mengalami kisah yang dialami oleh Imran Ahmad, maksudnya benar-benar menjadi persis sama seperti Imran Ahmad sebagaimana yang tertulis dalam buku memoarnya ini (Bocah Muslim Di Negeri James Bond)---lahir di Pakistan dan dibesarkan di tengah masyarakat Britania pada tahun 60-an, 70-an, 80 an, yang pada masanya, konon lebih rasisme, dan dilengkapi juga oleh aneka materi dunia mode, jenis mobil, sekolah dan oh Tuhan, gadis-gadis Eropa dan Amerika yang secara umum, kata Imran sendiri, terlihat menarik dan membuatnya penasaran---Maka sayalah ini orangnya yang akan pertama mengacungkan tangan untuk teriak: Saya mau! Imran, saya mau.

Ini adalah keinginan, bersumber dari rasa penasaran saya, untuk mencoba langsung merasakan bagaimana sih rasanya menjadi Imran Ahmad, kayaknya seru, tumbuh dengan identitas Islam imigran, dibarengi dengan perasaan takut serta jengkel pada ketidakadilan dunia, namun tetap berusaha untuk berbaur dengan nilai-nilai Barat. Menjangkau hingga jauh pada kehidupan sekolah, tetangga, kamar kost, teman-teman, dialog, kilasan berita di televisi, dan oh aneka macam perempuan, dan lain-lain, di mana kadang-kadang banyak hal yang buruk terjadi. Dan terutama tentang diri sendiri yang terus dibingungkan oleh persoalan agama beserta perjuangan untuk menemukan identitas keagamaan.

Bisakah saya seperti Imran Ahmad? Sebagaimana yang saya baca di dalam buku memoarnya ini? Orang yang menurut saya bisa tetap fleksibel di dalam berkebudayaan dan juga aneka macam konteks. Dan menjadi yang tetap berusaha menjangkau-dengan pemahaman-bahwa kita hanya memiliki keinginan yang sama dalam impian dan hidup, tidak peduli siapa pun kita. Kita hanya perlu memahami satu sama lain dalam suatu masyarakat multi-budaya, bahwa tidak ada yang namanya "Yang lain", melainkan sebagai suatu entitas yang sama untuk segera meraih label “Kita”. Menjadi manusia yang terus belajar banyak tentang diri sendiri seluas mungkin tentang kompleks kebingungan multikultural.

Bisakah saya? Atau jangan-jangan tidak, karena saya malah akan menjadi seorang muslim yang sangat marah oleh seluruh konsep benturan peradaban antara Islam dan Barat pada masa itu? Dan berkhotbah seraya mencaci maki mereka yang seiman, yaitu yang tidak memiliki pendirian dan tingkah laku yang sama dengan saya. Dan mengatakan kepada siapa pun yang punya telinga bahwa hanya Muslim sejati lah yang mewakili pihak Baik, dan semua orang lainnya akan menjadi anak buah Setan. Maka jika saya begitu, oh saya sudah tahu Imran Ahmad segera akan bilang kepada saya: Pidi, kau memang tidak akan pernah peduli tentang cinta, perdamaian, sikap memaafkan, dan toleransi. Bagi pribadiku, kau tidak pernah menarik hatiku sebagai seseorang yang Islami sama sekali.

Oke, Tuan Imran, insya Allah mungkin saya bisa bersikap sama sepertimu. Tetapi masalahnya sekarang adalah, akankah kemudian saya juga bisa sama sepertimu, yaitu bisa menceritakan kisah saya kelak ke dalam memoar sebagaimana halnya engkau bisa? Menuliskannya dengan kehangatan. Mudah dibaca dan benar-benar sangat lucu dengan humor dan wawasan mengenai tantangan dan kebahagiaan. Dikomunikasikan tanpa melodrama atau bentuk kemartiran. Dan bisa membuat pembaca segera mengetahui penulisnya seolah-olah telah menghabiskan seumur hidupnya dengan tumbuh bersamanya.

Menjadi sebuah buku memoar yang begitu sederhana. Menyenangkan dan elegan berbau sangat Inggris. Terdiri dari serangkaian anekdot yang selain bisa membuat saya tersenyum oleh kehidupanmu, juga membuat saya terkejut, yaitu ketika menemukan kecerdasanmu yang sangat relevan, tepat ketika kita merasa sedang hidup di bawah bayang-bayang 'Clash of Civilizations' dan bom bunuh diri yang sering tak pernah dapat saya pahami.

Selain itu, buku ini juga tepat waktu untuk bisa memberi pembaca, khusunya Barat, wawasan yang dalam mengenai jiwa seorang Muslim, dan memberi kesempatan untuk merefleksikannya kembali pada sikap berkemanusiaan yang hidup damai bersama di atas permukaan bumi. Ini adalah kebijaksanaan dan juga kecerdasan yang telah dibukukan, tentang realitas budaya baru globalisasi, untuk memberikan suatu kejelasan dan mungkin juga optimisme. Dan kita diajak melalui perjalanan pribadinya untuk mendapatkan sebuah penemuan, yang secara bertahap bisa saling belajar makna Islam dan Kristen dan lalu mengukurnya bersama.

Setidaknya begitulah yang bisa saya katakan. Pastinya ini bukan sebuah buku omong kosong. Ada hal penting tersembunyi yang bisa didapatkan selain dari yang sudah saya sebutkan. Apa pun itu, “Namun tetap indah”, kata Imran, seolah-olah dia bicara kepada saya malam ini dan itu jadi membuat saya ingin tersenyum lagi.

Wallahualam bisawab!

Bandung, 1 September 2009 dan malam dan senang.

Pidi Baiq, yang juga seorang muslim, lagipula Haji dan insya Allah mabrur.



Blog EntryOct 14, '09 3:52 AM
for everyone
2. Kumbang-kumbang

1.
Demi jeruk dan juga durian yang masih mentah. Aku adalah orangnya yang selalu muncul di panggung yang dididrikan di atas permukaan tanah. Memperdengarkan suaranya yang terdengar serak-serak basah. Akulah orangnya yang berseru-seru dengan nyaring di banyak pertemuan ramah tamah. Berdiri di atas mimbar untuk mengucapkan perkataan dengan tatabahasanya yang susah dicerna. Oh, monyet, kesenangan seperti apakah yang aku cari dengan menjadi orang semacam ini?

2.
Setiap ucapan yang keluar dari mulutku bersandar kepada pengertianku sendiri. Akulah orangnya yang berkata kepada murid-muridku: “Pehatikanlah perkataan mulutku. Kepadamulah aku ingin berseru, supaya engkau berpegang teguh pada apa yang akan aku katakan. Dengarkanlah, sesungguhnya pendapat masyarakat itu salah. Pendapatku lah yang benar bahwa pendapatku lah yang salah”. Mendengar hal itu murid-muridku tercenung. Mereka berusaha keras supaya bisa mengerti akan perkataanku itu. Apabila mereka tidak juga kunjung mengerti, maka mereka akan segera menyangka bahwa gurunya sedang sakit panas, sehingga guru jadi mengigau. Tetapi sesungguhnya mereka adalah murid yang tetap akan berkata: “Kami mengerti, wahai, Guru”. Sebab dengan mengatakan itu mereka akan mendapat uang sepuluh ribu dariku. “Terimakasih, Guru, panjanglah umurmu sampai selama-lamanya”.

3.
Berumah di sebuah lembah yang hijau beberapa mil di luar kota. Di seberang timur sungai yang tidak kuketahui namanya. Hidup bersama seorang istri yang mnurutku manis dan kedua anak yang menurutku baik. Lembah yang indah dipenuhi pohon pisang dan kangkung, dan bunga-bunga berwarna yang harum baunya dan lagipula tidak terurus. Dibangun dari batu biru yang kokoh, yang diambil pada suatu malam yang cerah, dipenuhi bintang-bintang cemerlang. Dan binatang-binatang yang terbang yaitu kunang-kunang, niloporvata tugens, nephotettik sp, sogatella furciferro, kupu-kupu, walangsangit dan kepik. Itulah rumah dengan batunya yang diambil dari sungai yang mengalir dari sumbernya yang disebut mata air Matana. Tidak ada seorang pun tahu mata air Matana, karena Matana itu nama karanganku sendiri. Tetapi harus aku ceritakan begitu, supaya seolah-olah indah dan berlebihan, karena aku adalah yang menulis buku ini.

4.
Setiap malam selasa, aku sering berkumpul bersama-sama mereka yang memilih berkumpul daripada tidak ada pekerjaan, di sebuah tempat yang dinamakan Kingdom Of “Have Fun”, untuk mengkaji ilmu Manfaatulngawur. Untuk mendapat hikmat dan didikan dari perkataanku yang ngawur. Untuk mendapatkan kue dan minum. Untuk mendapatkan uang setiap aku sedang gampang disanjung. Untuk mendapatkan waktu menjadi sia-sia.

5.
Ketika pada suatu hari, di sebuah tempat yang dinamakan Maklum, adalah tempat lain dari itu, pada saat usai sembahyang, aku berjalan bersama murid-muridku, yaitu Ghoras, Hobbes dan Bahal. Ghoras adalah dia orangnya yang disebut Ghoras Paleo Alberto IV, murid pertama, bertanya: “Wahai Guru, apakah pemilu nanti, Guru akan memberikan suara?”. Guru adalah aku orangnya yang menjawab: “Insya Allah, Ghoras, kalau seandainya aku tidak serak”. Maka setelah itu kulihat Ghoras merenung, lalu bangkit dari duduknya dan katanya: “Semoga engkau dalam keadaan sehat, Guru”. Aku tersenyum menyadari Ghoras ingin kuberi uang dan maka kataku kepadanya: “Jika Allah menghendaki demikian, Ghoras, maka demikianlah hendaknya”. Ghoras duduk kembali dengan terus memandangku dan berkata: “Mudah-mudahan demikian, Guru”. Aku tidak ingin menceritakan bahwa setelah aku mengatakan itu, aku memberi uang kepada Ghoras, karena aku takut hal seperti itu akan riya. Maka yakinlah, meskipun tidak aku ceritakan padamu, sesungguhnya aku memberi mereka uang setiap mereka membuat aku merasa sukacita.
                                                                                                                                                                             
6.
Hobbes adalah dia orangnya, yaitu yang disebut Hobbes Cambron Mahone De Lamoral, murid ketiga, bertanya: “Oh Guru, siapakah mereka yang kita pilih waktu pemilu?”. Aku tersenyum meskipun aku tak ingin, lalu jawabku kepadanya: “Orang yang kita pilih adalah yang kelak biasanya dengan sirine polisi, menyuruhmu minggir di jalan raya”. Hobbes tercenung sambil mempermainkan jarinya, karena ia sedang mencari pertanyaan, setelah itu lalu dia bertanya: “Guru, bukankah mereka itu wakil rakyat, lalu mengapa rakyat yang adalah ketuanya harus minggir di jalan raya? Setelah mengatakan itu Hobbes menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang mudah-mudahan bersih, sedangkan ia memandang aku. Jawabku kepadanya: “Demikianlah, Hobbes, mungkin karena masing-masing sudah lupa siapa dirinya”. Ghoras duduk di samping kiri Hobbes, dia berdiri dan lalu bertanya: “Kenapa wakil lebih kaya dari ketua, Guru?”. Aku menjawab: “Ghoras, dengarlah, memang demikian hendaknya, ketua yang sudah menyuruh wakil, maka ketua harus memberi upah pada mereka”. Lalu kata mereka bersama-sama:“Jayalah selalu, Guru”. Aku bertanya: “Siapa yang jaya?”. Mereka menjawab: “Engkau, Guru!”. Setelah semua itu mereka menjadi gembira atas apa yang tidak ingin aku ceritakan padamu.

(bersambung)
 

Blog EntryOct 13, '09 2:58 AM
for everyone
Penggalan buku
AL-ASBUN, Manfaatulngawur
--Insya Allah akan saya muat di sini bagian perbagian,
kecuali kalau kebetulan sayanya males dan listriknya mati--


1. Lemon tea

1.
Hari telah sejak tadi menutup tirainya. Memisahkan luar dengan diriku dalam sebuah ruang, di bawah liputan cahaya 40 watt karya Thomas Alva Edison. Cahaya dalam ukurannya yang memungkinkan, menciptakan bayang-bayang. Barangsiapa yang membutuhkan cahayanya, maka ia akan merasa silau bila terlalu dekat padanya.

2.
Tak ada keraguan lagi, malam telah menyerahkan dirinya pada para penjaga yang dipercaya. Mengatakan keadaannya dengan bunyi seperti suara tiang listrik yang dipukul. Aku adalah orangnya, menulis buku Al-Asbun ini dengan Microsoft Word dan sudah makan malam dengan seekor ikan berpakaian emas di antara daun-daun lalap yang hijau.
 
3.
Ketika mungkin ada ratu di dalam laut dan mungkin juga mahluk hidup di planet Mars, salam sayang, aku telah meminum lemon tea yang dihidangkan di atas meja dengan waktu yang tepat. Aduhai, sesungguhnya kesenangan seperti apakah yang ingin aku cari dengan menulis buku ini. 

4.
Kemudian aku berkata atas pemahamanku sendiri, seperti engkau juga, berkata atas pemahamanmu sendiri. Kebenaran sejati tetap di sana, misteri yang tak kunjung bisa ketemu. Dan anjing herder di garasi, menggonggong seenaknya, bagai orang yang marah. Dan semut, di atas lantai, mungkin bicara. Bertanya dia kepadaku tentang Suami Ratu Bilqis. Gerangan ke mana Raja bijak, bahkan kepada semut tak berlaku semena-mena. Sebenarnya ini sunyi, aku merasakannya ketika rasa kantuk mulai membangun kekuatan di atas langit-langit rumah, sebelum sempurna melepaskan dirinya menyerbuku.

5.
Bacalah ini. Hasrat dari segala pendekataanku pada samudera pikiran ngawur, di mana aku hanyut. Ungkapan penyingkapan diri tentang segala Pembenaran yang membutuhkan kata-kata untuk memberimu tahu: aku adalah dia orangnya, pemilik pemahaman yang dangkal, meskipun mungkin tidak. Tetapi harus aku katakan begitu. Demi sensasi, seolah-olah aku adalah dia orangnya, manusia rendah hati di antero dunia. Dan, engkau jangan sekali-kali tertipu.
 

Blog EntryOct 7, '09 11:54 AM
for everyone
SAYEMBARA

"Apa yang akan kamu katakan kepada orang eskimo di rumahmu, agar dia tidak menangis karena rindu pada kampung halaman setelah membuka lemari es mu?

2 pemenang untuk 2 kaos THE PANASDALAM (terbuat dari kain) dan 2 buku AL-ASBUN Manfaatulngawur (jika sudah terbit awal desember 2009 insya Allah). Hadiah akan dikirim oleh Deni Manusia Apa Ikan kalau dianya sehat. Sayembara ditutup sampai tanggal 10 Oktober jam 5 sore. Pemenang dan (10 komen terindah) akan dimuat di pamflet/poster untuk disebarkan di berbagai tempat di Bandung.


Pidi Baiq

Blog EntryAug 1, '09 2:36 AM
for everyone
10. Malaysia HUTRI

Apa tanda-tandanya bahwa ini bulan Juli? Di daerah Ciwastra, Bandung , punya tandanya sendiri: Anak-anak Tarka memasang drum di tengah jalan. Meminta sumbangan untuk dana merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia . Pada lubang drum minyak tanah itu, ditancap kayu sebagai tiang untuk mengibarkan bendera merah putih. Di sanalah mereka berdiri, membawa semacam kaleng, atau ember, sebagai wadah untuk menampung uang receh pemberian penumpang dari kendaraan yang lewat.   
 
Sore itu, sore yang indah itu, saya diberi kesempatan bisa melewati mereka untuk yang kesekian kalinya. Berhenti sebentar untuk bicara kepada salah seorang dari mereka, yaitu orang yang tadi berdiri membungkuk-bungkuk agar dikasihnya uang:
“Bisa ikut saya?” tanya saya.
“Kemana, A?”.
Tidak saya jawab, saya segera maju untuk meminggirkan kendaraan. Dari agak jauh itu, kira-kira enam meter jauhnya, saya panggil dia. Dia datang bersama dua orang temannya.   
“Kiteu orang Malaysieu”. (Saya pake “eu”, seperti sama kalau saya mengucapkan peuyeum)
“Oh?” mereka sepertinya kaget, “iya”.
“Acareu apeu niiih?” saya tanya.
“Sumbangan, Pak” jawab dia.
“Acara Agustusan” temannya ikut bicara.
“Okey. Sayeu nak derma. Apeu nak derma di Indonesia nih?” saya bertanya seolah-olah ingin tahu apa bahasa Indonesianya nak derma, “Oh ya, sayeu mau beri you wang. Uang. Understand?”.
“Understand, Pak. He he he Makasih”
“Dua puluh ribu ya!” kata saya sambil mengeluarkan uang dan memberikannya kepada salah seorang dari mereka.
“Thank you, Bos!” jawab seseorang. Dia berusaha bisa bicara aksen Malaysia .
“Oke ya. Selamat hari jadi Indonesieu!”.
“Makasih. Makasih”.
“Hidup Indonesieu!!!” pekik saya sambil sedikit angkat tangan kanan yang terkepal ke atas.
“Hidup Malaysieuu!” mereka bilang begitu, juga dengan mengangkat tangannya yang terkepal ke udara. Alamak!
“Awak tahu Ambalat? Oh. Kamu tahu Ambalat? Kiteu nak pergi ke saneu”
“Apa, Pak?”.
“Ambalat! Sayeu nih…..nak cari Ambalat. Awak tahu? Kamu tahu?”. Saya sebenarnya kesulitan mencari kosa kata bahasa Malaysia , tapi kayaknya mereka percaya deh.
“Jalan Ambalat, Pak?”.
“Sebentar….sebentar….” saya bicara seperti berdendang. Ambil notes book kecil di dalam saku baju, lalu membukanya. “Ambalat. Nunukan. Ya. Awak tahu jalan Ambalat?”
“Tak adeuu, Pak!”. Si gondrong itu bicara aksen Malaysia juga.
“Cinunuk, bukan?” seseorang dari mereka bertanya. Cinunuk adalah nama daerah di Bandung , letaknya kira-kira 10 kilometer dari Ciwastra. Atau lebih, atau kurang.
“Iya. Cinunukan” jawab saya.
“Cinunuk, Pak”.
“Okay, kemaneu?”.
“Lurus aja, Pak”.
“Terimakasih ya” kata saya.
“Sama-sama, pak”.
“Ini adeuu sepuluh ribu lagi, lumayan laaa”.
“Waah, makasih. Makasih”.
“Oke ya? Hidup Indonesieu!”.
“Hidup Malaysia !”.
“Aaaah, katanyeu ganyang Malaysieuuuu?” saya bilang begitu bagai orang sedang menyibir.
“He he he” mereka ketawa.
“Ok. Assalamualaikum”
“Alaikumsalam”
 
Saya pergi meninggalkan anak-anak Tarka itu. Anak-anak Tarka yang pada acaranya nanti, pasti akan menyelenggarakan pagelaran band, dan diawali oleh adanya acara lomba panjat pinang pada sore harinya. Panjat pinang yang mengharuskan orang untuk berjuang sebisa mungkin demi saling berebut bahu membahu dalam arti sebenarnya agar mendapat aneka barang nun ada di atasnya. Mungkin pada dasarnya tidak lebih hanya sekedar hiburan saja. Supaya rame belaka. Tidak sama sekali ada maksud ingin menyindir polah pejabat tertentu yang bekerja semata-mata demi harta dan kekuasaan. Lalu saya ingat Kak Ula. Suatu hari dia ada tanya sama saya:
“Pidi, cinta Indonesia gak sih?”.
“Cinta lah, Kakak”.
“Cinta apa? Bikin negara sendiri. Dulu, ngibarin bendera Korea depan rumah si ibu ha ha ha. Dimarah Pak RT ya?”. Ibu yang dimaksudnya adalah ibu saya.
“Iya. Bukan dimarah. Si Ibu ditegur”.
“Iya..dimarah itu”.
“Saya cinta Indonesia , Kakak, sangat cinta sekali lebih dari mereka yang cuma omong doang. Tapi juga cinta Malaysia, cinta Thailand, cintakan Vietnam, cintakan Kuba, cinta Belanda, Bulgaria, Kongo, Palestina, Arab Saudi, Amerika, Kanada, Argentina. Australia . China . Cinta semua”.
“Banyak amat”.
“Kakak harusnya tahu cinta saya nih luas, saking luasnya sampai-sampai bisa menembus batas territorial”.
“He he he”.
“Kalau kakak kan rahmatan lil Indonesia . Saya rahmatan lil alamin”.
“He he he”.
“Di negara mana pun kita berada, Kakak, hal terpenting adalah tetap memastikan diri untuk menjadi manusia yang keren. Manusia warga dunia yang melakukan perbuatan baik dan berguna bagi alam semesta. Semata-mata demi atas nama tuhanmu, bukan atas nama apa pun”.
“He he he” dia ketawa.
“Saya salah ya?”.
“Enggak salah, cuma aneh aja”.
“Biarin deh”.
“He he he”.
“Pendapat masyarakat itu salah, pendapat sayalah yang benar, bahwa pendapat saya salah”.
“He he he”.

Bandung , 2009 

Blog EntryMay 7, '09 11:40 PM
for everyone
THE PANASDALAM SERIKAT
dan ELEPEHANT ORGANIZER! THE PANASDALAM

menyenangkan dirinya sendiri dengan:

THE PANASDALAM

Da Concerta La Pecel Lele


Sabat, 9 Mei 2009 Sesudah Masehi

GGM, Gelanggang Generasi Muda,
Jalan Merdeka 64 Bandung. Seberang jalan gedung Gramedia, bertetanggaan dengan gedung BIP, Bandung Indah Plaza.

Acara dimulai dari pukul 19:00 sampai kamu disuruh pulang oleh orang tua karena mereka katanya rindu.

Tiket (beli di tempat): 10 ribu rupiah (Info: Hasil penjualan tiket akan dibagi-bagi untuk pihak GGM 50%, untuk Dispenda 25%, untuk EO -Elepehant Organizer The Panasdalam 25%)

Memanggungkan:
The Panasdalamerahputih Keroncongan,
The Band Panasdalam,
The Panasdalam Senior,
The Radio Band,
The Fresh Milk,
Oh Deni Mai On The Land,
Muaz Al-Saum Al-Patut,
Pidi Baiq in Concentration Tohimselfa,
Ra Firsa Barsani,
dan lain-lain.

Informasi lebih rumit :
Egi Beyi: 022-70965320
atau 085862002062


Disponsori oleh:
Mizan, Uwak Rosiman, Radio Republik The Panasdalam, RP (RumahProduksi) The Panasdalam.





Blog EntryMay 7, '09 1:56 AM
for everyone
PENGUMUMAN PEMENANG SAYEMBARA (di FACEBOOK saya)
"Apa Yang Akan Kau Katakan Jika Chating Dengan Firaun"
(Dipercepat dari jadwal yang sudah ditentukan, karena takut sayanya sibuk pada tanggal 8)

Seandainya ketiga juri ada tinggal dalam satu alamat mungkin enak, bisa saling diskusi untuk menentukan siapa pemenangnya, bisa ada yang protes dengan cara walk out kalau mungkin dia kecewa dengan keputusan ketua juri. Atau bisa saling traktir sehabis lelah karena senang sudah berhasil menentukan pemenangnya, atau ketiganya malah sibuk ngurus facebook sehingga lupa harus bertugas menjadi juri.

Tapi nyatanya tidak, kedua juri selain saya ada beralamat nun di sana, di luar Indonesia, sehingga terpaksa saya harus mengirim semua “komen” yang masuk ke FB saya (kurang lebih 200 komens), melalui email. Itu adalah ke emailnya mbak Lifa dan Marissa. Saya bilang sama mereka dengan: “Wahai, Mbak Lifa/Marisa yang akan turut sedih kalau saya miskin, tolong pilih ya 15 komen yang menurut mbak Lifa/Marissa pantas jadi pemenangnya”. Lalu oh alangkah indahnya karena masing-masing dari mereka akhirnya menentukan 15 komen yang menurut mereka pantas jadi pemenangnya, dan segera mengirimkannya ke email saya. Itu bersamaan dengan ketika hujan turun di Bandung.

Aneh bin ajaib, segala puji bagi Allah, kiranya beberapa yang dipilih oleh Mbak Lifa ada sama dengan yang dipilih oleh Mbak Marissa, juga ada sama dengan 15 komen yang saya pilih, sehingga lahirlah ada 12 komen yang jadi pemenangnya. Demi Neptunus dan cangkir kopi yang motifnya jelek, itu berarti ada dua komen yang harus digugurkan (abortiolaste), karena Amerika hanya ingin ada 10 pemenang saja. Aduh. Padahal saya ingin semuanya menang, karena 200 komen yang masuk nyaris semuanya bikin saya ketawa dan bisa membuat saya bilang oh keren kau. Maka mau tidak mau inilah akhirnya:

Despois dun longo análisis. O resultado, o máis interesante :


1 Hanafi Achmad

“Selamat pagi firaun, semoga hari ini menyenangkan

2 Shella Amane

“Firaun lagi sibuk gak? CMD yuk? CS..”

3 Anton Hernawan :

“Wahai firaun, mengapa engkau berwajah musam?apakah engkau tahu wahau firaun, engkau adalah seorang ahli tasauf, engkau adalah seorang sufi, teori rene descartes engkau lahap bulat2x, engkau begitu bijak wahai pendahulu keniscayaan nietchze, tak lupa engkau yang membentuk pemikiran HUSAIN IBN MANSHUR AL-HALLAJ, sungguh engkau suatu keniscayaan, ini adalah suatu pujian.

4. Pluchadelict Rhytm N Distortion Pluk:

“Punten kang, Fir, bsk harap kumpulkan iuran wajib bulan ini, sebab ikaomusuperciti (ikatan org musrik suka persib cinta mati) distrik mesir belum bayar, sebab persib sudah kehabisan dana bwt nggajih christian gonzales.. Terimakasih"

5. Sterhen Akbar

“Ya firaun, saya tidak kenal kau. Saya hanya tau kau tenggelam dulu sekali. sewaktu untuk lihat piramid harus ke mesir. Tapi terimakasih sudah mau mengaku Tuhan dan mengejar ngejar Musa AS. Sebab kalau tidak, mungkin kita tidak belajar tentang takabur dan sombong.

6. Ricky Abdurrasyid

“Hey firaun, bagaimana rasanya balsem jaman dahulu?”

7. Tatang Haidar

“Kang Fir...kenapa dulu ga jd orang Indonesia aja biar bisa bikin nasi tumpeng segede pyramid”

8. Firman Widyasmara pada 10:43 04 Mei

“(obrolan pertama menggunakan musik/nada sbg bhs universal)
firaun: <ding>
firaun: <ding>
firman: BUZZ!!!...
firaun: <ding>
firaun: <ding>
firman: BUZZ!!!
firaun: <ding>
firaun: <ding>
firman: BUZZ!!!
firaun: <ding>
firaun: <ding>
firman: ... palaku pusing
firaun: ... ketiban dinding

9. Wirasti Sarasati pada

“Pa kabar?? Damang lur?? Gmana?? Di sana masih musim kemarau??

10. an El Joansyah

“Fir.. no hp nya dunk......”

33. Fahri Dayni

“Dah lama neh ga ol,, kemana ajah om fir??”


Nomor urutan tidak menentukan kualitas. Terimakasih, sudah ikutan sayembara. Tak ada hal yang lebih menarik ketimbang hidup senang dan rame.


Bandung, 7 April 2009 Masehi

Pidi Baiq,
Atas nama: Marissa Van Lovenhook, Lifawalliguahantu.


PS: Kepada pemenang kirimkan alamatnya ke private message Pidi Baiq. Kepada yang belum menang tunggulah sayembara berikutnya.

Blog EntryMar 24, '09 12:42 AM
for everyone
MP BOOK POINT
menyelenggarakan:


NGOPI SORE BERSAMA
Pidi Baiq bicara serius tentang ketidakperluan serius.
3 April 2009 Masehi
Pukul 16: 00 sampai Pidi Baiq ingin pulang.
Peserta acara mendapat kopi gratis, Pidi Baiq tidak.
Deni Mai ingin ikut, mau jualan kaos, enggak apa-apa.
Jaka Wiguna ingin nikah siri, terserah.

Mp Book Point
Jalan Puri Mutiara Raya no 27
Cipete, Jakarta Selatan


Blog EntryMar 21, '09 2:07 PM
for everyone
Bandung 21 Maret 2009 masehi.
Hujan turun terus menerus sedari sore, bagai tak akan kunjung berhenti untuk selama-lamanya. Meskipun akhirnya berhenti juga, itu setelah jam menunjukkan pukul delapan malam.

Kami, orang-orang yang menjadi panitia acara konser The Panasdalam, sudah sejak pukul lima sore berkumpul di sebuah cafe KANA studio musik. Kumpul untuk rapat koordinasi masalah persiapan acara besok. Rapat yang berjalan sangat bagus dan dipenuhi oleh banyak ketawa dan oleh banyak makanan, dan oleh banyak yang datang.

Tapi sekitar pukul delapan malam, datanglah Dea. Dea adalah orang baik yang kami utus untuk menemui pemilik Cafetaria Tangga III, tempat kelak acara konser The Panasdalam dilaksanakan. Dea ke sana untuk memastikan kesiapan panggung yang besok pagi rencananya akan dipasang alat-alat musik. 

Dea datang dan bilang kepada kami: bahwa Agustinus, pemilik Cafetaria Tangga III, bilang: tidak boleh ada alat musik drum, tidak boleh nambah sound system, tidak boleh nambah watt, dan yang lebih bikin Dea nyaris marah: Agustinus minta beberapa meja dikosongkan, itu adalah meja yang akan dia khususkan untuk tamu-tamunya/teman-temannya.

Ini berita buruk buat kami. Bagaimana Pak Haji? "Oh, kamu sudah bilang sama itu orang, bahwa kami butuh alat musik drum, dan ini acara sengaja diadakan khusus untuk orang-orang kami?". Sudah saya usahain. Agustinus bilang itu sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Itu harga mati.
"Kalau begitu: Pindah!!"
"Waktunya tinggal sehari besok, Yah?"
"Kita kasih tahu Agustinus, masih banyak tempat di Bandung. Dan kita keren"
"Siap"
Pindah dan cari tempat yang lokasinya dekat dengan lokasi awal. Besok, simpan beberapa orang di gerbang Cafetaria tangga III itu, untuk menginformasikan kepada tamu yang datang soal kepindahan lokasi acara.

Demikianlah. Setelah itu Kang Yandi bersama beberapa orang pergi ke gedung GGM (Gelanggang Generasi Muda), untuk menemui pihak GGM kali aja bisa diperbolehkan menggunakan gedung GGM menjadi tempat pengganti acara besok malam. Dea dan beberapa kawan pergi ke CCF (Pusat kebudayaan Francis) untuk tujuan yang sama. Saya dan beberapa kawan menemui pemilik KANA dan ketua RT setempat untuk mengantisipasi kalau-kalau GGM dan CCF tidak bisa maka terpaksa kami akan menggunakan halaman KANA sebagai tempat ganti acara besok.

Alhamdulilah, meskipun CCF tidak bisa dipakai, karena ada jadwal kegiatan di waktu yang sama, tapi aula GGM ternyata bisa dipakai, itu setelah Kang Yandi mendapat izin dari kepala GGM melalui telepon.

Aduh ini nulis apa, terburu-buru, tapi intinya adalah:

Acara Konser The Panasdalam PINDAH ALAMAT ke aula GGM (Gedung Generasi Muda) Jalan Merdeka no 64, Bandung. Lantai dua. Depan toko Gramedia, sebelah kanan BIP. Pukul 19:00 sampai pukul 22:00. Insya Allah 

Terimakasih, maaf dan mohon maklum

Bandung, 22 Maret 2009, pukul 01:05 WIB


Pages:12345