YA ALLAH YANG MAHA PENYAYANG, SAYANGILAH PIDI BAIQ | |
(Sekali lagi) IHWAL PARTAI KUCING SEJARAH PARTAI KUCING Didirikan oleh sebab adanya keinginan untuk mendirikan partai. Itu bersumber dari hasrat yang menggoda untuk bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki dan mengurus sebuah partai. NAMA PARTAI KUCING Dinamakan Kucing agar bila nama itu disandingkan dengan kata Partai akan tersebut nama yang lain. FILOSOFI LAMBANG PARTAI KUCING Gambar tikus menjadi simbol dari target yang harus dikejar. Warna Merah merupakan warna yang lumayan cerah untuk tidak mengaburkan dan bisa memperjelas gambar tikus sebagai figurenya. Warna Putih pada mata tikus untuk melambangkan kesucian. Bentuk bulat yang melingkupi gambar tikus untuk mengingatkan kita kepada Galilea Galileo bahwa bumi ini bulat. AZAS, CIRI DAN NILAI DASAR PARTAI KUCING Tahu jalan pulang ke jauh mana pun pergi. Sejauh mana kucing dibuang akan tahu jalan pulang, kecuali dimasukkan ke dalam karung. Santai melangkah menempuh jalan: Setiap sopir kendaraan entah oleh karena apa akan berusaha untuk tidak menabrak kucing, sehingga oleh karena itu kucing bisa santai saat menyebrang jalan. Hemat menabung: Kucing adalah salah satu figur yang bentuknya memberi inspirasi untuk membuat kerajinan keramik tempat menyimpan uang sebagai usaha manusia untuk berhemat. Menarik minat Orang: Kucing adalah icon yang dipasang di meja kasir untuk bisa memberi banyak keuntungan Membangkitkan manusia yang berkarya tanpa ruh. Kucing mampu membangunkan yang mati menjadi bisa bangkit berdiri dengan cara melangkahinya. MOTTO: KAMI ADA KARENA KAMI LAHIR Notes: Kepada yang sudah mendaftarkan diri, mohon sabar, untuk mendapatkan kartu anggota dan elemen lain yang mendukung penyemarakan Partai Kucing. Mohon alamat tempat tinggal untuk alamat pengiriman dan ditunggu biodatanya karena indah rasanya bila sekalian ada pengurusan administrasi.
MARS PARTAI KUCING
Partai kucing, di jalanan Kena hujan berhamburan Orang gila menutup hidung Teman-teman berdatangan Memunguti partai kucing Justeru senang dapat kerjaan REFF Kami yang baik sekali mereka baiknya sekali Kami yang baik-baik sekali Mereka baik sekali-kali
BOLU KETEK “Ayah!!”, itu suara istri saya di Hp kalau kamu mau tahu. “Apa?”, saya tanya. “Ini ayah pasti!”, Suaranya seperti bisikan yang disengaja supaya orang banyak tidak mendengar. Suaranya seperti dia sedang bicara di dapur karena saya mendengar ada suara benda-benda dapur. “Iya ini Ayah. Kenapa?” “Ini ayah, ini ayah!! Itu ibu-ibu!” “Ayah. Ibu-ibu. Apa?” “Pura-pura. Ayah yang ngundang!” “Udah pada datang gitu?” “Gitu! Gitu! Iya. Di mana ini?” “Di jalan. Bentar lagi sampai! Udah, suruh pada duduk aja!” “Tanggung jawab kamu!” “Iya. Ini daerah Logam!” “Iya udah cepetan!” Klik. Aduh, mereka sudah pada datang. Terus saya telepon balik. “Apa?”, “Berapa orang yang datang?” “Udah pokoknya pulang…iya gelas itu aja…,” kalimat terakhir pasti bukan untuk saya,”Beli makanan!”, nah kalimat itu baru untuk saya. “Iya!” Klik.
Sebagian besar cerita ini sudah dihapus pada tanggal 9 Mei 2008 disebabkan oleh SURAT PERJANJIAN PENERBITAN, Pasal 2 Ayat 1: Penulis menjamin tidak akan menyerahkan karya tersebut kepada pihak lain untuk diterbitkan dalam bentuk apa pun (seperti internet dan bla bla bla)------ oleh karena ini, saya mohon maaf selama-lamanya (Pidi Baiq)"hidup kami, malulah Plagiator"
SALES BADMINTON Saya bangun siang. Tapi itu masih mending, masih jam 9, karena biasanya saya bangun jam dua belas siang. Saya memang pemalas, tapi untuk apa saya rajin kalau saya merasa diri sudah pandai. Sama lah itu seperti halnya kamu, tidak perlu hemat lagi, karena kamu sudah kaya, sudah mendapatkan pangkalnya. Saya masih di dalam kamar dan terus terang saya tadi ke kamar mandi, untuk cuci muka dan buang urine. Lalu saya duduk begitu, membaca buku sambil mendengar banyak suara. Suara bagus dari tetangga yang sedang membangun rumah, dan suara lain yang keras dari pedagang yang lewat menawarkan dagangannya, termasuk tukang roti itu, yang telah menyebabkan saya sebentar tadi ingat istri, ingat Rosi. Tapi istri saya pasti sudah pergi ke kantornya. Pasti sudah pergi sejak tadi pagi. Dia memang rajin, maksud saya masih rajin, masih dalam proses menjadi pandai. Sedangkan Timur dan Bebe, anak-anak saya, pasti sudah pergi juga, ke sekolah. Sebagian besar cerita ini sudah dihapus pada tanggal 9 Mei 2008 disebabkan oleh SURAT PERJANJIAN PENERBITAN, Pasal 2 Ayat 1: Penulis menjamin tidak akan menyerahkan karya tersebut kepada pihak lain untuk diterbitkan dalam bentuk apa pun (seperti internet dan bla bla bla)------ oleh karena ini, saya mohon maaf selama-lamanya (Pidi Baiq) (Hidup Kami, Malulah Plagiator)
JALAN BARBIE Hari itu adalah siang, saya menyaksikannya dengan mata kepala saya sendiri. Nampak matahari ada baru setengah naik. Jam menununjukkan pulul 10 lebih. Cuaca sangat sedang bagusnya. Sedang cerah. Tak ada hujan seperti biasanya cuaca Bandung belakangan ini. Tapi hari itu adalah Senin kalau kamu ingin tahu nama harinya. Hari di mana saya barusan keluar dari rumah dan membeli 3 buah boneka Barbie di Borma. Boneka Barbie yang penuh warna ungu. Dipilih ungu mungkin karena sengaja untuk konsumsi anak-anak wanita. Boneka Barbie palsu yang lumayan besar, berukuran kurang lebih 30 centimeter tingginya. Itu tadi saya keluar rumah bawa Mobil Derek. Kamu pasti tidak akan percaya dan itu bagus karena kenyataannya memang tidak. Kenyataannya saya pake motor yang saya beri nama Mobil Derek. Kami kasih nama begitu untuk motor yang suka dipakai menderek mobil-mobilan Bebe, anak saya dan rame lho. Bersama boneka Barbie yang saya simpan dalam ransel itu, saya ke sana, mengendarai Mobil Derek, menyusuri jalan Sukarno Hatta, nama jalan yang sering bikin saya ingin lagi jadi siswa SD, biar kalau guru tanya siapakah Sukarno Hatta, maka saya akan menjawab: Nama Jalan, Bu! Bukan, Nak, itu nama Bandara. Bandara Internasional. Oh. Sebagian besar cerita ini sudah dihapus pada tanggal 9 Mei 2008 disebabkan oleh SURAT PERJANJIAN PENERBITAN, Pasal 2 Ayat 1: Penulis menjamin tidak akan menyerahkan karya tersebut kepada pihak lain untuk diterbitkan dalam bentuk apa pun (seperti internet dan bla bla bla)------ oleh karena ini, saya mohon maaf selama-lamanya (Pidi Baiq)
(Hidup Kami, Malu lah Plagiator)
Naruto Itu adalah saya yang baru selesai menjalankan ibadah mandi. Berdiri di ruang tengah seraya menyalakan teve, menyebabkan teve menjadi seperti Api. Ada remote controle di tangan saya, yang saya pakai untuk memindah-mindah channel. Tapi kebetulan, malam itu, tidak saya dapati acara bagus sehingga teve segera saja saya matikan, menyebabkan saya jadi seperti Pembunuh. Ada suara istri sedang duduk bicara di ruang tamu. Dia di sana karena dia harus menerima tamu. Tamunya berupa ibu muda, tapi kayaknya dia sedang pusing. Suaranya pelan seperti bersumber dari keadaan dirinya yang sedang sedih. Pusing oleh apa yang kita bersama kenal sebagai persoalan hidup. Saya tebak pastilah korban kekerasan rumah tangga. Dan maka itu pasti dia sedang konsul sama istri saya yang Psikolog, yang juga sebenarnya sama saja bisa pusing oleh suaminya, oleh suaminya yang saya ini. Tapi menurut saya kalau memang kamu pusing akan bisa lekas disembuhkan oleh hanya dengan minum obat sakit kepala yang manjur. Sebagian besar cerita ini sudah dihapus pada tanggal 9 Mei 2008 disebabkan oleh SURAT PERJANJIAN PENERBITAN, Pasal 2 Ayat 1: Penulis menjamin tidak akan menyerahkan karya tersebut kepada pihak lain untuk diterbitkan dalam bentuk apa pun (seperti internet dan bla bla bla)------ oleh karena ini, saya mohon maaf selama-lamanya (Pidi Baiq) ----HIDUP KAMI, MATI KAU PLAGIATOR---
I am Sterdam Pada hari pertama saya datang, untuk sementara kamu baik, sehingga untuk sementara saya bisa tinggal dulu di rumahmu. Larasati. Di rumahmu di Tweede Jacob Van Campenstraat 126a 1073xx Amsterdam. Untuk sementara kamu juga mau memberi saya makan, memberi saya minum, memberi saya kamar mandi, handuk, sabun, shampoo, pasta gigi dan toilet. Untuk sementara kamu seolah-olah memberi saya waktu untuk sedikit menghemat uang makan dan, lupa, kamu juga memberi saya tahu ke mana arah menghadap kiblat.
Kamar yang kamu tunjuk untuk saya tiduri itu adalah ruangan di bagian belakang rumahmu, ruangan dengan jendela yang bila saya buka, saya bisa melihat bangunan apartemen lainnya di Quelijnstraat. Sebagian besar cerita ini sudah dihapus pada tanggal 9 Mei 2008 disebabkan oleh SURAT PERJANJIAN PENERBITAN, Pasal 2 Ayat 1: Penulis menjamin tidak akan menyerahkan karya tersebut kepada pihak lain untuk diterbitkan dalam bentuk apa pun (seperti internet dan bla bla bla)------ oleh karena ini, saya mohon maaf selama-lamanya (Pidi Baiq)
(Hidup Kami, Malulah Plagiator)
Memburu UFO Barangsiapa yang mencabuli hari Sabat akan dihukum mati (Keluaran 31:14; Bilangan 32:36). Hukuman ini merujuk kepada kehilangan hidup kekal yang dikaruniakan kepada umat-umat pilihan. Mereka diasingkan daripada umat kerana hidup kekal dinafikan bagi mereka. Sabat merupakan tanda di antara Tuhan dan anak-anak Israel untuk selamanya (Keluaran 31:17). Pada hari Sabtu itu, Timur tidak masuk sekolah, tetapi pasti bukan karena Timur ada maksud mau menghormati hari Sabat, karena kamu tahu, Timur, sekaligus juga orangtuanya, sekaligus juga kakek neneknya, jelas-jelas bukan orang Israel, meskipun mungkin, kemungkinan besar, bersumber dari satu orang manusia yang bernama Adam, bersumber dari suatu bahan yang sama, dari tanah kering mirip tembikar. Timur tidak sekolah hari Sabtu itu, lebih dikarenakan oleh adanya pengumuman libur yang disebarluaskan pada hari Jumatnya, berkaitan dengan seluruh, akan lebih enak kalau pakai kata segenap, oke, berkaitan dengan segenap guru di sekolahnya harus mengadakan acara rapat. Rapat untuk membahas apakahnya, saya tidak tahu persis, karena saya bukan guru dan kamu tahu, saya sangat sibuk sekali. Tetapi lain hal dari itu saya mengucapkan terimakasih kepada rapat, kehadiranmu, wahai rapat, berbetulan dengan saya mau ajak itu Timur, pergi ke ibu kota Indonesia yang bernama Jakarta. Apakah? Apakah itu Jakarta? Kamu bisa cari sendiri di www.google.com. Sebagian besar cerita ini sudah dihapus pada tanggal 9 Mei 2008 disebabkan oleh SURAT PERJANJIAN PENERBITAN, Pasal 2 Ayat 1: Penulis menjamin tidak akan menyerahkan karya tersebut kepada pihak lain untuk diterbitkan dalam bentuk apa pun (seperti internet dan bla bla bla)------ oleh karena ini, saya mohon maaf selama-lamanya (Pidi Baiq) (Hidup Kami, Malulah Plagiator)
DJOKO GLEDEK Ketika hujan turun, saya baru sampai di café itu. Ketika saya sampai di café itu, tempat duduk di halaman café sudah penuh dengan orang lho. Ketika tempat duduk di halaman café sudah penuh dengan orang lho, saya tidak perlu merasa sakit hati karena tidak mendapat bagian. Ketika saya tidak perlu merasa sakit hati karena tidak mendapat bagian, saya pergi masuk ke dalam café. Ketika saya pergi masuk ke dalam café, saya memutuskan untuk ambil ruangan khusus. Ketika saya memutuskan untuk ambil ruangan khusus maka itu adalah sebuah ruangan berukuran 2 kali 3. Ketika saya memutuskan untuk ambil ruangan khusus berukuran 2 kali 3, maka saya harus jajan di cafe itu minimal menghabiskan uang 150 ribu. Ketika saya memutuskan untuk ambil ruangan khusus dan itu adalah sebuah ruangan berukuran 2 kali 3 maka itu adalah ruangan hanya untuk saya saja dan juga siapa pun orang yang saya ajak bergabung.
Ketika saya sudah mendapatkan ruangan itu, maka saya duduk di atas sofa warna hijau toska berbentuk letter U. Saya harus mau duduk di atas sofa warna hijau toska berbentuk letter U itu, karena memang sudah demikianlah adanya untuk menggenapkan konsep yang dibikin oleh si perancang cafe. Jangan minta yang lebih dari itu dan saya memang tidak minta yang lebih dari itu, karena saya tahu saya tidak bisa meminta lebih dari itu dan fihak café tidak akan memenuhi keinginan saya untuk dapat lebih dari itu. Jangan manja dan kebetulan saya tidak. Sebagian besar cerita ini sudah dihapus pada tanggal 9 Mei 2008 disebabkan oleh SURAT PERJANJIAN PENERBITAN, Pasal 2 Ayat 1: Penulis menjamin tidak akan menyerahkan karya tersebut kepada pihak lain untuk diterbitkan dalam bentuk apa pun (seperti internet dan bla bla bla)------ oleh karena ini, saya mohon maaf selama-lamanya (Pidi Baiq)
(Hidup Kami, Malulah Plagiator)
PATUNG ARIEL BISU Hari sedang senin. Matahari sudah terbang tinggi. Sudah pukul 10. Oh, mungkin lebih. Itu saya baru bangun dari tidur. Masih pakai sarung Samarinda. Masih pakai kaos oblong bertuliskan Australi. Istri sudah sejak pagi tadi dia pergi, ke Jakarta. Timur, sama, sudah sedari pagi dia pergi ke sekolah, bersama teman-temannya di dalam mobil jemputan. Bebe, sama, sudah sedari pagi dia pergi bersama tantenya ke taman yang paling indah, taman kanak-kanak. Pembantu, sudah sejak kapan dia pergi ke mana. Mungkin sudah menclok di rumah tetangga atau sedang ke warung atau sedang kemana pun, tidak akan saya bahas. Pada kemana orang-orang rumah, saya merasa sedang sendiri. Tivi menyala tanpa penonton. Ada kopi di atas meja yang berukir, itu pasti untuk saya. Baca-baca dulu sebelum meminumnya, bisa saja ada orang yang memasukkan sesuatu ke dalamnya, untuk membuat perut saya menjadi kembung dan terus meletus, mengeluarkan aneka macam kalajengking dan binatang lainnya, diiringi musik, entah siapa yang memainkannya, untuk menambah situasi semakin ngeri dan asap mengelun di berbagai tempat di sekitar saya. Nanti ba’da duhur saya rencana mau mandi lho, karena harus pergi ke kantor untuk mengurus apa saja. Jadi masih ada beberapa jam untuk saya berleha-leha. Duduk menghadap ke taman di bangku serambi rumah sambil membaca tulisan headline di Koran pagi. Memandang sekitar, memandang ikan berenang, memandang bunga berkembang, memandang daun-daun berlobang, di makan ulat, menyebabkan saya puny aide untuk mengambil Gunting Taman di tempatnya dan pergi ke sana memotong beberapa daun yang sudah dibikin ulat menjadi rusak. Sebagian besar cerita ini sudah dihapus pada tanggal 9 Mei 2008 disebabkan oleh SURAT PERJANJIAN PENERBITAN, Pasal 2 Ayat 1: Penulis menjamin tidak akan menyerahkan karya tersebut kepada pihak lain untuk diterbitkan dalam bentuk apa pun (seperti internet dan bla bla bla)------ oleh karena ini, saya mohon maaf selama-lamanya (Pidi Baiq)
(Hidup Kami, Malulah Plagiator)
100 APHORISMA PIDI BAIQ
35. Mungkinkah Malin Kundang terkenal jika dia tidak durhaka Pidi Baiq 36. Orang yang kepadamu menjelek-jelekkan orang lain adalah orang yang sama kepada orang lain menjelek-jelekkan dirimu. Pidi Baiq 37. Hidup ini main-main, sekolah lah yang telah menyebabkannya menjadi serius Pidi Baiq 38. Sehingga kamu melakukan shalat sekedar asal absen karena ingin nilai dan takut dimarah, itu sama dengan kamu dulu ikut senam SKJ di sekolah, disebabkan alasan yang sama bukan karena kamu ingin sehat. Pidi Baiq 39. Kamu semangat sekolah karena untuk bertemu temanmu Pidi Baiq 40. Masalah adalah apa yang kau anggap sebagai masalah Pidi Baiq 41. Nabi Adam seharusnya punya ibu untuk mengurus dia waktu bayi. Pidi Baiq 42. Sekikir-kikirnya orang tetap memberi makan dan minum kepada toilet Pidi Baiq 43. Kalau Leonardo Da Vinci lahir di desa di Indonesia bisa jadi dia hanya seorang petani atau nelayan biasa Pidi Baiq 44. Guru bilang perbedaan adalah rahmat, tapi dia menyuruh kita seragam Pidi Baiq 45. Bersenang-senanglah karena kita lahir disebabkan oleh kedua orangtua kita yang bersenang-senang Pidi Baiq 46. Berani hidup adalah berani mati Pidi Baiq Bersambung (Hidup Kami, Mampuslah Plagiator)
Lagu ini saya tulis sekitar tahun 1999. Ini ditulis pada masa jaya-jayanya Joshua menjadi penyanyi cilik. Saya sering bersama anak saya melihat dia menyanyi di televisi. Bikin saya mengenang masa lalu, mengenang saya masih kecil dulu, mengenang Chicha Koeswoyo, penyanyi cilik kenamaan pada masanya dan sering tampil di layar Televisi Republik Indonesia. Saya tidak tahu apa khabar Chicha kini sama seperti saya tidak tahu apa khabarnya kelak Joshua bila sudah besar nanti. CHICHA IN NOSTALGIA Chichaaaaa di mana kini engkau dahulu kau nyanyikan lagu tentang anjing kecilmu Helliiiiiiiii apakah masih hidup dahulu ia berlari-lari kuingat guk guk guk suaramu REFF Kini aku sudah besar Rolling stone laguku Kini kau pun sudah besar apa dong lagumu Chichaaaaa apakah kau menyesal dahulu kau lucu sekali sudah besar jadi begitu REFF Kini aku sudah besar inilah laguku Kini engkau sudah besar mana dong lagumu END (Hidup Kami, Mampuslah Plagiator)
Lagu ini saya bikin tahun 2004. Ini tentang Nia, Nia Violin, pemain biola yang sudah sering bantu The Panasdalam manggung dan recording. Beberapa lagu The Panasdalam kebanyakan diiringi biolanya Nia. Ini sangat membantu saya, setidaknya saya merasa begitu, menyebabkan saya bilang sama Nia pada suatu sore yang hujan: Nia saya mau bikin lagu buat kamu. Iya, Ayah, bikin lagu tentang Nia dong. Oke Nia. Sebagai bentuk ucapan terimakasih saya sama Nia karena sudah mau bantu. Iya dong. Iya Nia, ini Nia: BAYANGKAN TANPA NIA Bayangkan tanpa Nia Bayangkan tanpa Nia Bayangkan Apa jadinya DUNIA Apa jadinya DUNIA REFF: Hanya DU Hanya DU Hanya DU END (Hidup Kami, Mampuslah Plagiator)
100 APHORISMA PIDI BAIQ 23. Bekerja untuk memenuhi kebutuhan raga, berkarya untuk memenuhi kebutuhan bathin. PID BAIQ 24. Jangan takut polisi, kalau tidur kita gilas PIDI BAIQ 25. Kalau jadian makan-makan, kalau putus minum-minum PIDI BAIQ 26. Merasa rindu itu karena kamu tidak bertemu PIDI BAIQ 27. Membalas dengan tidak mengakui dia sebagai anakmu, itu lebih adil daripada mengutuk dia menjadi batu.
PIDI BAIQ 28. Seni budaya tradisional yang kini diselenggarakan orang dengan serius adalah yang dulu diciptakan orang atas dasar bermain-main.
PIDI BAIQ 29. Kalau di dunia kelelawar ada upacara bendera, mereka melaksanakannya jam tujuh malam PIDI BAIQ 30. Manusia tidak bisa terbang seperti burung karena dia bisa membuat pesawat terbang PIDI BAIQ
31. Rajin pangkal capek PIDI BAIQ 32. Kamu hanya tinggal ubah channelnya kalau kamu merasa takut PIDI BAIQ 33. Pemerintah kota Jakarta bertolak belakang dengan tugu Selamat Datang yang justeru menyambut kaum urban.
PIDI BAIQ 34. Siapa pun kamu, ujung-ujungnya minta kelamin. PIDI BAIQ
(bersambung) (Hidup Kami, Mampuslah Plagiator)
100 APHORISMA PIDI BAIQ 1. Jangan tanya apa yang sudah negara berikan kepadamu, tapi tanyalah apa yang sudah negara ambil darimu. PIDI BAIQ 2. Rakyat adalah mulut yang menjadi bisu karena diambil suaranya waktu pemilu PIDI BAIQ 3. Kita tidak akan pernah ada di masa depan, karena kita selalu berada di hari ini PIDI BAIQ 4. Setiap yang hidup pasti makan PIDI BAIQ 5. Id anam ralu, ralu id hawas artinya di mana ular, ular di sawah PIDI BAIQ 6. Seandainya aku boleh memilih sebelum dilahirkan, betapa enak menjadi perempuan, tinggal membuka aurat dan lelaki bekerja keras untuk mendapatkannya PIDI BAIQ 7. Kamu bisa menarik atau menekan gas sekuat bisa, tetapi untuk ngebut dibutuhkan nyali
PIDI BAIQ 8. Alam semesta adalah buku, adalah karya ciptanya bukan dirinya, kau hanya harus membacanya untuk mengetahui jati diri penulisnya PIDI BAIQ
9. Istrimu adalah yang sudah bersedia dinikah olehmu PIDI BAIQ 10. Suami yang romantis adalah yang pulang bersama turunnya embun, suami pendekar adalah yang pulang sore bersama keluarnya kelelawar. PIDI BAIQ 11. Makanlah, karena kita tidak tahu kapan mati PIDI BAIQ 12. Orang yang kau pilih waktu pemilu, adalah yang kelak dengan sirine polisi menyuruhmu minggir di jalan raya.
PIDI BAIQ 13. Polisi tidak perlu mencuri, karena sudah mendapatkannya dari pencuri yang tertangkap PIDI BAIQ 14. Kewarganegaraan adalah urusan administrasi
PIDI BAIQ 15. Menghadap Tuhan aurat ditutup, menghadap manusia mukena dibuka
PIDI BAIQ 16. Setiap yang tidur pasti memejamkan mata, setiap yang memejamkan mata belum tentu tidur.
PIDI BAIQ 17. Kumpul ora kumpul mangan PIDI BAIQ 18. Saya wajar dimarah karena saya tidak pantas berbuat salah. Mereka pantas marah-marah kepada saya karena mereka memang pemarah.
PIDI BAIQ 19 Dikenal sebagai orang baik kalau salah dicaci maki. Dikenal sebagai orang brengsek kalau salah dimaklumi.
PIDI BAIQ 20. Waktu kecil disuruh-suruh makan, sudah besar disuruh-suruh kerja
PIDI BAIQ
21. Sudah tahu kerja itu capek, masih juga orang mencarinya PIDI BAIQ 22. Waktu kecil banyak ngomong dipuji-puji, sudah besar banyak ngomong dimaki-maki PIDI BAIQ (bersambung)
(Hidup Kami, Mampuslah Plagiator)
Ini lagu, saya tulis tahun 1999. Riyanto, kamu sekarang sudah menjadi Kepala Bagian di perusahaan tempat kamu bekerja. Tapi ini adalah lagu tentang kamu tentang kisah kamu yang dulu itu. Tentang kamu sedang dilanda cinta kepada seseorang yang tinggal di asrama di Jatinangor. Seorang mahasiswi Psikologi Unpad yang kata kamu sangat cantik dan sangat kamu ingini. Kamu berusaha sesering bisa untuk datang menemuinya dengan harapan bisa menjadi kekasihnya. Kamu bawa banyak hal sebagai oleh-oleh agar bagaimana dengan itu kamu bisa mendapat hatinya sebagai barter, termasuk beberapa buku yang kau ambil dari perpustakaan saya dan tidak pernah kunjung kembali hingga sekarang. Saya bisa merasa alangkah kamu sangat semangat sekali saat itu, seolah-olah di kepalamu hanya ada satu kota di dunia ini, hanya ada Jatinangor. Sampai kamu jadi jarang kumpul lagi bersama kami sebagaimana sebelumnya. Riyanto, bahwa kemudian akhirnya kamu menjadi murung dan tidak pernah lagi menemuinya, itu karena kemudian kamu tahu kalau dia ternyata sudah ada yang punya, sudah dimiliki oleh dia sesama mahasiswa UNPAD. Riyanto, saya sebagai kawanmu, sebagai sesama mahasiswa ITB, sebagai sesama mahasiswa di kampus yang sama, yang punya slogan In Harmonia Progressio, merasa ikut terpukul dengan kejadian yang menimpa mu itu dan bahkan mampu membuat bangkit saya punya sentimen almamater. Lagu ini, Riyanto, adalah lagu dokumenter tentang masa lalumu yang pusing yang akan mengganggumu untuk kembali mengingatkan masa itu, biar sekeras apa pun kamu berusaha melupakannya. SUDAH JANGAN KE JATINANGOR Sudah jangan ke Jatinangor Dia sudah ada yang punya Lebih baik diam begini Temani Aa bernyanyi di sini Demi cinta engkau berikan Buku-buku dan cendera mata Demi cinta engkau praktekkan Buku taktik menguasai wanita REFF Ini asmara itu asrama In harmonia progressio Ini asmara itu asrama In harmonia progressio Sudah jangan ke Jatinangor Masih ada kota lainnya Perempuan tak cuma dia Ada tiga milyar dua puluh satu END (Hidup Kami, Mampuslah Plagiator)
Saya lupa kapan lagu ini saya tulis, mungkin sekitar tahun 2003, ketika malaikat pencatat mendapati diri saya dan diri kawan saya sedang berkumpul bersama beberapa orang perempuan yang masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Biasa laah dalam rangka ketawa karena ini, ketawa karena itu, bicara soal ini, bicara soal itu. Sampai kami tahu kalau mereka, siswi SMA yang sudah mulai beranjak remaja itu, adalah manusia yang masing-masing baru lahir ke dunia pada tahun 1986. Jadi, ya Tuhan, kalau begitu, ketika saya masuk perguruan tinggi tahun 1991, itu adalah tahun mereka baru masuk sekolah TK. Dan kawan saya, kawan saya yang jatuh hati kepada salah satu dari mereka itu, adalah dia yang masuk kuliah pada tahun 1986, pada tahun saat mereka masih bayi (sekarang toh dia sudah menikah dengannya). PHEDOPILIA Sayang engkau masih di TK Sedang aku S2 Sudut pandang kita berbeda Usia kita jelas tak sama REFF Cinta kandas karena usia Mengapa kita berjumpa Selamat tinggal kekasihku Tak mungkin ku menunggumu Kelak engkau tambah usia Sedang aku semakin tua Mungkinkah kau akan terima Sedang aku si Tua Bangka Back to Reff END (Hidup Kami, Mampuslah Plagiator)
Lagu ini saya tulis tahun 1996. Ini lagu semula bercerita tentang Fufus, tentang kawan saya yang setiap tahun, atau kadang-kadang lebih, dengan sengaja atau tidak, saya dapati “diri”nya selalu berubah. Ada pernah saya dapati dirinya sudah menjadi dukun. Benar-benar total menjadi seorang dukun dengan segala tetek bengeknya hingga detail. Ada pernah juga saya dapati dirinya berubah menjadi seorang tentara, 100% asli seorang tentara, baik lahir maupun bathin. Lagu ini saya tulis di saat saya dapati dia berubah menjadi bencong. Bencong dengan sebencong-bencongnya, sama sekali bencong. 100 persen jadi bencong, bahkan pernah pada suatu hari, saking totalnya, dia bisa membawa seorang Ratu bencong se Bandung Raya ke kantor saya. Bahwa kemudian pada proses kreasinya, saya mengganti nama Fufus menjadi Jono, itu disebabkan karena saya ingat bahwa dia juga pernah jadi tentara, bersamaan dengan saya ingat kepada Kopral Jono pada salah satu lagu karya Titik Puspa. METAMORFOSA JONO BENCONG Wanita sekodya Bandung punya saingan Semenjak Jono jadi bencong Jono yang dulu kopral kini sudah bukan Jadi Bencong Terkutuk REFF Jika bicara seperti desir angin Bibirnya basah kuyup Jika berjalan seperti tanpa tulang Si Bencong Tulang Lunak REFF Ya Allah, lindungilah kami Dari Bencong Terkutuk Ya Bencong lindungilah kami Dari Jono Terkutuk Ya Jono, lindungilah kami Dari Kopral Terkutuk Ya Kopral, lindungilah kami Dari saling mengutuk END
(Hidup Kami, Mampuslah Plagiator)
Lagu ini saya tulis tahun 1996. Ini lagu iseng, dulu saya membuatnya sekedar untuk merespon penggalan bait dari syair lagu yang dikumandangkan oleh Chrisye (kini almarhum). Kamu sekalian mesti lah tahu, itu lagu lama tentang seorang lelaki yang merintih-rintih ditinggal mati kekasihnya. Ada pun penggalan bait yang saya maksud adalah:
Mengapa terjadi kepada dirimu Aku tak percaya kau telah tiada Haruskah kupergi tinggalkan dunia Agar aku dapat berjumpa denganmu
Hal yang kemudian menyebabkan saya jadi menulis lagu, adalah bersumber dari memikirkan apa respon dari kekasihnya yang sudah tiada itu.
RINTIHAN KUNTILANAK
Malam sunyi, kusendiri duduk sepi, di atas pohon kubiarkan rambutku terurai
Tanpa kaki, kelelawar anjing, dan bulan purnama kumenanti kekasihku yang belum mati
REFF Kapan mati, kekasihku kumenanti, kau di sini Ayo mati, bunuh diri Biar kita jumpa lagi seperti dulu
Mana mungkin kukembali hidup lagi seperti dulu kecuali engkau mati mohon mengerti
END
(Hidup Kami, Mampuslah Plagiator)
NAPAK TILAS Oh ini rumah orangtuaku. Rumah tempat dulu saya dibiar menjadi besar dengan kasih dengan sayang dan aneka macam makanan. Menjadi besar lalu pergi untuk kuliah dan juga ternyata sekaligus untuk menikah. Itulah kepergian saya yang tidak pernah saya duga menjadi kepergian untuk berpisah samasekali, karena kemudian saya berumah sendiri di tempat lain yang baru, di tempat lain yang jauh. Menempuh hidup baru. Hari ini, dan hari ini, saya datang lagi ke rumah itu, tempat lahir saya itu, kamu tahu itu saya bukan mau kembali lagi untuk tinggal di situ, karena kamu tahu saya datang hanya untuk cuma-cuma. Sebagian besar cerita ini sudah dihapus pada tanggal 9 Mei 2008 disebabkan oleh SURAT PERJANJIAN PENERBITAN, Pasal 2 Ayat 1: Penulis menjamin tidak akan menyerahkan karya tersebut kepada pihak lain untuk diterbitkan dalam bentuk apa pun (seperti internet dan bla bla bla)------ oleh karena ini, saya mohon maaf selama-lamanya (Pidi Baiq)
(Hidup Kami, Mampuslah Plagiator)
| |